Cari Blog Ini

Jumat, 09 Maret 2012

Keberagamaan Yang Tulus; Keberagamaan Sejati

KH. Jalaluddin Rakhmat
Dalam Kitab Matsnawi, Jalaluddin Rumi bercerita: Dahulu, ada seorang muadzin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat. Banyak orang memberi nasihat kepadanya: “Janganlah kamu memanggil orang untuk shalat.
Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suara kamu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dengan orang-orang kafir.” Tetapi muadzin itu menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan adzannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.
Sementara orang-orang Islam mengkuatirkan dampak adzan dia yang kurang baik, seorang kafir datang kepada mereka suatu pagi. Dia membawa jubah, lilin, dan manis-manisan. Orang kafir itu mendatangi jemaah kaum muslimin dengan sikap yang bersahabat. Berulang-ulang dia bertanya, “Katakan kepadaku di mana Sang Muadzin itu? Tunjukan padaku siapa dia, Muadzin yang suaranya dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?” “Kebahagiaan apa yang kau peroleh dari suara muadzin yang jelek itu?” seorang muslim bertanya.
Lalu orang kafir itu bercerita, “Suara muadzin itu menembus ke gereja, tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak
mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang mukmin yang sejati. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Kecintaan kepada iman sudah tumbuh dalam hatinya. Aku tersiksa, gelisah, dan terus menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku kuatir dia akan masuk Islam. Dan aku tahu tidak ada obat yang dapat menyembuhkan dia. Sampai satu saat anak perempuanku mendengar suara adzan itu. Ia bertanya, “Apa suara yang tidak enak ini? Suara ini mengganggu telingaku. Belum pernah dalam hidupku aku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadat atau gereja.” Saudara perempuannya menjawab, “Suara itu namanya adzan, panggilan untuk beribadat bagi orang-orang Islam. Adzan adalah ucapan utama dari seorang yang beriman.” Ia hampir tidak mempercayainya. Dia bertanya kepadaku, “Bapak, apakah betul suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?” Ketika ia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah suara adzan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian kepada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan. Tadi malam aku tidur dengan nyenyak. Dana kenikmatan serta kesenangan yang kuperoleh tidak lain karena suara adzan yang dikumandangkan muadzin itu.”
Orang kafir itu melanjutkan, “Betapa besar rasa terima kasih saya padanya. Bawalah saya kepada muadzin itu. Aku akan memberikan seluruh hadiah ini.” Ketika orang kafir itu bertemu dengan si muadzin itu, ia berkata, “Terimalah hadiah ini karena kau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah kau lakukan, kini aku terlepas dari penderitaan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan kuisi mulutmu dengan emas.”
Jalaluddin Rumi mengajarkan kepada kita sebuah cerita yang berisi parodi atau sebuah sindiran yang sangat halus. Adzan yang dilantunkan dengan buruk dapat menghalangi orang untuk masuk Islam. Dari cerita di atas kita tahu keberagamaan yang dimaksudkan untuk membawa orang kepada agama berubah menjadi sesuatu yang menghalangi orang untuk memasuki agama.
Dengarlah nasihat Jalaluddin Rumi setelah ia bercerita tentang itu. “Keimanan kamu wahai muslim, hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti ajakan tentang adzan itu, yang alih-alih membawa orang ke jalan yang lurus, malah mencegah orang dari jalan kebenaran. Betapa banyak penyesalan masuk ke dalam hatiku dan betapa banyaknya kekaguman karena iman dan ketulusan Bayazid Al-Bustami.” (Bayazid adalah seorang tokoh sufi yang merintis jalan kesucian dan memberikan kepada Tuhan seluruh ketulusan imannya. -red)

Dengan itu sebetulnya Rumi ingin membedakan adanya dua macam keberagamaan atau dua macam kesalehan. Kesalehan yang pertama adalah kesalehan pulasan. Orang meletakkan nilai pada segi-segi lahiriah. Orang meletakkan kemuliaan pada pelaksanaan secara harfiah terhadap teks-teks syariat. Seperti orang yang beradzan, ia merasa adzannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena adzan itu, seperti disebutkan dalam hadis, adalah satu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks-teks itu, maka orang berlomba-lomba untuk melakukan adzan. Tetapi karena yang mereka ambil hanya bungkusnya dan melupakan hakikatnya, yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dimaksudkan. Adzan dimaksudkan untuk memanggil orang untuk shalat tetapi dalam cerita di atas, adzan telah berubah menjadi suatu alat untuk menjauhkan orang dari shalat. Adzan tidak lagi menyeru orang untuk beribadah tapi adzan telah menjauhkan orang dari ibadah kepada Allah swt. Itulah keberagamaan jenis pertama, keberagaman muadzin bersuara buruk. Keberagamaan seseorang yang berpegang teguh kepada teks-teks syariat lalu melupakan maksud yang sebenarnya dari ajaran agama.
Keberagamaan yang kedua, adalah keberagamaan Bayazid Al-Bustami. Keberagamaan ini menekankan pentingnya memelihara lahiriah agama dengan tidak melupakan segi-segi batiniah dan tujuan-tujuan keberagamaan itu. Inilah keimanan yang tulus seperti keimanan Bayazid Al-Bustami. Tentang Bayazid, Rumi menulis puisi:
Setetes saja dari iman Bayazid masuk ke dalam lautan
Seluruh lautan akan tenggelam dalam tetesan iman
Jika sepercik api dari keimanan Bayazid jatuh di tengah hutan
Seluruh hutan akan hilang karena percikan iman
Sebuah bintang muncul dalam diri Muhammad
Sehingga seluruh kepercayaan Majusi dan Yahudi menjadi punah

Jalaluddin Rumi mengingatkan kepada kita bahwa keberagamaan yang tulus, betapa pun kecilnya, mampu mengubah dunia. Dan keberagamaan yang tidak tulus, betapa pun besarnya, tidak berdampak apa-apa kecuali hanya menjauhkan orang dari ajaran Islam yang sebenarnya.
Kita memerlukan Islam yang tampil dengan wajah yang ramah. Keterikatan pada bentuk-bentuk lahiriah yang terlalu setia dengan mengabaikan initi dari ajaran Islam bisa jadi akan menghambat ajakan kita pada orang-orang untuk kembali kepada Islam. Bukankah kita sering menemukan orang-orang yang berdakwah dan memanggil orang kepada Islam, tetapi yang mereka teriakan adalah hal-hal yang membuat orang makin menjauh dari Islam. Orang-orang yang datang untuk mencari ilmu dalam sebuah majlis taklim, disirami mereka dengan kecaman dan ejekan dengan suara-suara keras yang menjauhkan kecintaan mereka kepada agama.
Yang kita perlukan sekarang adalah suatu keberagamaan yang tulus, betapa pun kecilnya. Yang kita perlukan sekarang adalah satu tetes saja dari keimanan Bayazid Al-Bustami. Satu tetes yang tulus yang membawa orang kembali kepada Allah swt.
Marilah kita berusaha untuk mencari rahasia dari setiap ibadah yang kita lakukan. Tulisan ini saya akhiri dengan catatan singkat; keimanan yang sebenarnya adalah keimanan yang dapat menarik semua orang ke haribaan Islam. Apa pun bentuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar