Selasa, 31 Januari 2012

Model pembelajaran Think Pair Share (TPS)

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Menurut Kauchak dan Eggen, belajar kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan untuk membantu murid satu dengan murid yang lain dalam mempelajari sesuatu (Lie, 1999:129-130).
Secara sederhana pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berusaha untuk mengaktifkan siswa dengan membaginya ke dalam kelompok-kelompok diskusi. Menurut Wartono (2004:12) bahwa dalam pembelajaran kooperatif peserta didik tidak hanya diorientasikan untuk mempelajari materi semata, namun siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda.
Lebih lanjut Trianto (2009: 56) menjelaskan bahwa di dalam kelas kooperatif murid belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang murid yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu.
Menurut Wina Sanjaya (2006:242), karakteristik pembelajaran kooperatif adalah 1) pembelajaran secara tim, 2) didasarkan pada manajemen kooperatif, 3) kemauan untuk bekerjasama, dan 4) keterampilan bekerjasama.
Dalam pembelajaran kooperatif, guru harus meyakinkan setiap murid bahwa tujuan mereka akan tercapai jika murid lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Dengan arti kata adanya sebuah kesadaran bersama kalau dalam pembelajaran kooperatif saling ketergantungan antara satu murid dengan murid yang lain. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu. Dengan demikian, murid perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain. Dalam pembelajaran kooperatif belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman belum menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap murid belajar.
Terdapat empat prinsip dasar pembelajaran kooperatif menurut Wina Sanjaya (2006:244), prinsip tersebut adalah prinsip ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi tatap muka, partisipasi dan komunikasi.
Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh setiap anggota kelompok keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan.
Prinsip tanggung jawab perseorangan merupakan konsekuensi dari prinsip pertama. Oleh karena keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya.
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Pembelajaran kooperatif melatih murid untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak.
Menurut Slavin dalam Suradi (2006:6), keuntungan pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1) Murid bekerjasama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok.
2) Murid aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil.
3) Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
4) Interaksi antar murid seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.
5) Interaksi antar murid juga membantu meningkatkan perkembangan kognitif yang non konservatif menjadi konservatif.

Strategi Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan merupakan pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memenuhi pola interaksi murid (Komalasari,2010:64).
Pola interaksi yang dimaksud di atas adalah cara yang efektif untuk membuat variasi dalam pembelajaran melalui kerja sama. Satu aspek penting pembelajaran kooperatif ialah bahwa di samping membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik diantara siswa, juga membantu siswa dalam pembelajaran akademis.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Menurut Kauchak dan Eggen, belajar kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan untuk membantu murid satu dengan murid yang lain dalam mempelajari sesuatu (Lie, 1999:129-130).
Secara sederhana pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berusaha untuk mengaktifkan siswa dengan membaginya ke dalam kelompok-kelompok diskusi. Menurut Wartono (2004:12) bahwa dalam pembelajaran kooperatif peserta didik tidak hanya diorientasikan untuk mempelajari materi semata, namun siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda.
Lebih lanjut Trianto (2009: 56) menjelaskan bahwa di dalam kelas kooperatif murid belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang murid yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu.
Menurut Wina Sanjaya (2006:242), karakteristik pembelajaran kooperatif adalah 1) pembelajaran secara tim, 2) didasarkan pada manajemen kooperatif, 3) kemauan untuk bekerjasama, dan 4) keterampilan bekerjasama.
Dalam pembelajaran kooperatif, guru harus meyakinkan setiap murid bahwa tujuan mereka akan tercapai jika murid lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Dengan arti kata adanya sebuah kesadaran bersama kalau dalam pembelajaran kooperatif saling ketergantungan antara satu murid dengan murid yang lain. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu. Dengan demikian, murid perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain. Dalam pembelajaran kooperatif belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman belum menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap murid belajar.
Terdapat empat prinsip dasar pembelajaran kooperatif menurut Wina Sanjaya (2006:244), prinsip tersebut adalah prinsip ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi tatap muka, partisipasi dan komunikasi.
Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh setiap anggota kelompok keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan.
Prinsip tanggung jawab perseorangan merupakan konsekuensi dari prinsip pertama. Oleh karena keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya.
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Pembelajaran kooperatif melatih murid untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak.
Menurut Slavin dalam Suradi (2006:6), keuntungan pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1) Murid bekerjasama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok.
2) Murid aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil.
3) Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
4) Interaksi antar murid seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.
5) Interaksi antar murid juga membantu meningkatkan perkembangan kognitif yang non konservatif menjadi konservatif.

Strategi Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan merupakan pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memenuhi pola interaksi murid (Komalasari,2010:64).
Pola interaksi yang dimaksud di atas adalah cara yang efektif untuk membuat variasi dalam pembelajaran melalui kerja sama. Satu aspek penting pembelajaran kooperatif ialah bahwa di samping membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik diantara siswa, juga membantu siswa dalam pembelajaran akademis.
B. Tahapan-Tahapan Pelaksanaan Think Pair Share
Trianto (2007:61), menyebutkan tahapan demi tahapan yang dilakukan pada
pelaksanaan Think Pair Share (TPS) adalah: tahap satu think (berpikir), tahap dua pair (berpasangan), dan tahap 3 share (berbagi).
Proses TPS dimulai pada saat ini guru mengemukakan pertanyaan yang menggalakkan semua murid untuk berpikir. Pertanyaan ini hendaknya berupa pertanyaan terbuka yang memungkinkan dijawab dengan berbagai macam jawaban. Selanjutnya guru meminta kepada murid untuk berpasangan dan mulai memikirkan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru tadi dalam waktu tertentu. Tahap selanjutnya murid secara individu mewakili kelompok atau berdua maju bersama untuk melaporkan hasil diskusinya ke seluruh kelas.
Trianto (2007:61) menjelaskan langkah-langkah pembelajaran Think Pair Share dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 1 Pembelajaran Think Pair Share
Tahapan Guru Murid
1. Thinking Guru memberikan waktu kepada murid untuk berpikir tentang pertanyaan atau masalah yang diberikan
Murid berpikir sendiri untuk menemukan jawaban atas pertanyaan atau masalah yang diajukan
2. Pairing Guru memberikan tanda kepada murid untuk mulai berpasangan dengan murid lain Murid mulai mencari pasangan untuk mendiskusikan dan mencapai kesepakatan atas jawaban pertanyaan yang diajukan guru
3. Sharing Guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi jawaban atas pertanyaan atau permasalahan yang
diajukan guru
Murid berbagi jawaban atas pertanyaan atau permasalahan yang diajukan guru

C. Keunggulan-Keunggulan Think Pair Share
Menurut Sardiman (2007), keunggulan-keunggulan Think Pair Share, antara lain:
1) TPS mudah diterapkan diberbagai jenjang pendidikan dan dalam setiap kesempatan.
2) Menyediakan waktu berpikir untuk smeningkatkan kualitas respon murid.
3) Murid menjadi lebih aktif dalam berpikir mengenai konsep dalam mata pelajaran.
4) Murid lebih memahami tentang konsep topik pelajaran selama diskusi.
5) Murid dapat belajar dari murid lain.
6) Setiap murid dalam kelompoknya mempunyai kesempatan untuk berbagi atau menyampaikan idenya.

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Think Pair Share adalah suatu metode pembelajaran kooperatif yang memberi murid waktu untuk berfikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain. Metode ini memperkenalkan ide “waktu berfikir atau waktu tunggu” yang menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan murid dalam merespon pertanyaan. Pembelajaran Kooperatif model Think Pair Share ini relatif lebih sederhana karena tidak menyita waktu yang lama untuk mangatur tempat duduk ataupun mengelompokkan murid. Pembelajaran ini melatih murid untuk berani berpendapat dan menghargai pendapat teman.
Think Pair Share (TPS) adalah strategi diskusi kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya dari Universitas Maryland pada tahun 1981. TPS mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompk kelas secara keseluruhan. Think Pair Share memberikan kepada murid waktu untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain .
Think Pair Share memiliki prosedur yang secara eksplisit untuk member murid waktu untuk berpikir, menjawab, saling membantu satu sama lain. Dengan demikian diharapkan murid mampu bekerja sama, saling membutuhkan, dan saling bergantung pada kelompok kecil secara kooperatif.
D. Pelaksanaan Pembelajaran Melalui TPS
Model pembelajaran hendaknya sesuai dengan kebutuhan. Setiap kegiatan pembelajaran memerlukan persiapan yang berbeda-beda, tidak ada satu persiapan yang bisa digunakan untuk segala situasi, setiap topik dan setiap kompetensi yang akan di capai memerlukan persiapan yang berbeda-beda. Perencanaan pengajaran IPS diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media, penggunaan pendekatan dan metode, dan penilaian pengajaran dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Perencanaan pembelajaran bisa dibuat dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan persiapan pembelajaran dalam unit yang terkecil. Rencana pembelajaran mengandung komponen antara lain, yaitu :
1) Tujuan pengajaran,
2) Materi pelajaran/bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan pengalaman mengajar; dan
3) Evaluasi keberhasilan. Dalam menyusun RPP guru diharapkan dapat mengembangkan format-format baru yang sesuai dengan tahapan pegembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan.
Dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model Think Pair Share (TPS), langah pertama yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Thinking (berpikir)
Kegiatan pertama dalam Think-Pair-Share (TPS) yakni pertama guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik pelajaran ekonomi sesuai dengan materi yang dibawakan. Kemudian para siswa diminta untuk memikirkan masalah- masalah yang yang diajukan oleh guru yang berkaitan dengan materi yang telah dijelaskan. Dalam tahap ini siswa dituntut lebih mandiri dalam mengolah informasi yang mereka dapat .
2) Pairing (berpasangan)
Pada tahap ini guru meminta siswa duduk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat membagi jawaban dengan pasangannya. Kemudian guru memberikan waktu 10-15menit untuk berdiskusi secara berpasangan.
3) Share (berbagi)
Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi jawaban yang telah dipikirkan sebelumnya masing-masing siswa lalu mendiskusikannya sesuai dengan kelompok yang telah dibagi beberapa kelompok. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.


BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) ini adalah model pembelajaran yang relative mudah untuk diterapkan dan melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan semangat, perhatian siswa untuk belajar, sehingga gangguan dalam kelas dapat diminimalisir, demikian juga bagi siswa yang mengantuk, akan membuat mereka tergerak untuk memperhatikan pelajaran. Selain itu, siswa juga dapat membangun pengetahuan mereka dalam diskusi, sehinga hubungan sosial antar siswa dapat terjalin dengan baik.
B. Saran

0 komentar:

About Me

Foto Saya
Rahmat Santoso
Lihat profil lengkapku

Search

Memuat...

Followers