Cari Blog Ini

Jumat, 22 Juli 2011

T=v1+v2 ,Cara Meningkatkan Traffic Dan Popularity Dengan Cepat Dan Alami

Mohon baca baik-baik lalu terapkan dengan benar....
Sebuah filosofi mengatakan "Honesty is The Best Policy (Kejujuran adalah politik/strategi terbaik)" , inilah yang akan kita buktikan....apakah konsep kejujuran bisa kita olah menghasilkan traffic dan popularity yang lebih hebat dari konsep rumit para expert webmaster atau pakar SEO..?...
Saya yakin bisa asal konsep ini di jalankan dengan benar...,bila ini di terapkan pada web anda sesuai ketentuan maka:

-Web anda akan kebanjiran traffic pengunjung secara luar biasa hari demi hari, tanpa perlu repot-repot memikirkan SEO atau capek-capek promosi keberbagai tempat di dunia internet.
-Web anda akan kebanjiran backlink secara luarbiasa hari demi hari, tanpa perlu repot-repot berburu link keberbagai tempat di dunia internet.

Jika Albert Einstein memakai persamaan e=mc2 untuk menggabungkan potensi masa dan kecepatan cahaya untuk menghasilkan energi nuklir yang luar biasa itu ,maka kita akan memakai persamaan t=v1+v2 untuk mnggabungkan potensi web saya dan web anda untuk menghasilkan traffic dan popularity yang luar biasa pula.

Jika Einstein menggunakan atom plutonium dan uranium untuk membuat bom nuklir, maka kita menggunakan Kejujuran dan ketepatan untuk membuat bom traffic dan popularity ini.

Yang perlu anda lakukan adalah ikuti langkah-langkah berikut :

1-Buat posting artikel seperti posting saya ini, atau copy-paste posting ini dan juga diberi berjudul : t=v1+v2 ,Cara meningkatkan traffic dan popularity dengan cepat dan alami
2-Selanjutnya Copy atau buat KALIMAT SAKTI yang ada di bawah nomor 4 ini lalu pasang di web anda pada bagian yang paling mudah dilihat pengunjung, misalnya di bagian atas sidebar:
3-Pindahkan atau ganti link atau alamat url posting saya (disini-1) menggantikan alamat url rekan saya (disini-2).
-untuk mengetahui alamat url posting saya dan posting yang anda buat adalah bisa dengan meng-klik judul/title posting yang kita buat ini.
4-Lalu isi alamat url posting anda pada pada disini-1 tadi. Jadi anda melakukan publish (terbitkan) 2 kali, setelah posting ini selesai anda buat lalu di terbitkan, dan lalu anda klik pada title (judul) posting untuk mengambbil/meng-copy alamat url posting anda dari address bar browser anda, lalu anda edit lagi posting tadi dan masukan pada link disini-1 itu.

Berikut tulisan "KALIMAT SAKTI" yang perlu anda pasang di bagian web anda (setelah di ganti link url-nya sesuai ketentuan di atas)

"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...?...
Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...!..Klik disini-1 dan disini-2"

5-Di bawah ini ada 2 link :link anda (link web saya sekarang) dan link saya (link web rekan saya sekarang) . Maka ganti (alamatnya) "link anda" dengan "link url web anda" dan "link saya dengan link url web saya" (link rekan saya di hapus).
link anda
link saya
-Jadi setelah KALIMAT SAKTI ini di letakan di web anda maka: jika pengunjung meg-klik link disini-1 akan menuju link posting anda, dan jika meng-klik disini-2 akan menuju link posting saya...dan seterusnya kan terus terjadi mata rantai seperti itu...
5-Selesai, siapkan counter tracker dan pengecek link misalnya sitemeter dan technorati untuk melihat hasil banjir traffic dan linkback web anda.

Apa itu t=v1+t2...?
t : Jumlah traffic yang akan di peroleh web anda dalam suatu hari
v1 : Jumlah pengunjung web anda dalam suatu hari
v2: Jumlah pengunjung yang dimiliki v1 (pengunjung dari pengunjung web anda) dalam suatu hari.


Traffic:
Misalnya, web saya ini atau web anda dalam sehari memiliki rata-rata pengunjung 50 orang.., dan semuanya menerapkan konsep kita ini (KALIMAT SAKTI) dengan benar, dan dari 50 orang itu masing-masing memiliki 50 orang pula pengunjung dari blog-nya , maka web kita akan berpeluang di kunjungi 50 ditambah 50 x 50 orang pada hari itu = 2550 orang , dan akan berpeluang terus meningkat pula hari demi hari ,karena setiap hari selalu ada pengunjung baru di dunia internet, setiap hari juga ada blogger atau web baru di dunia internet...BUKTIKAN

Popularity:
Misalnya, web kita memiliki pengunjung 50 orang dalam suatu hari, dan semuannya menerapkan konsep ini , maka dalam hari itu web anda akan mendapatkan 100 linkback ke web anda, yaitu sebuah link pada KALIMAT SAKTI dan sebuah link pada link saya di kalikan 50. dan akan berpeluang meningkat terus hari demi hari....

Kenapa perlu di buat link link anda dan link saya pada posting...?
...hal ini untuk menjaga keabadian link kita, karena seperti kita tau link pada posting lebih kecil kemungkinannya terhapus....


Bisakah kita berbuat tidak fair atau tidak jujur menyabotase konsep ini, misalnya "menghilangkan semua link asal" lalu di isi dengan web/blog kita sendiri...? ....Bisa, dan konsep ini tidak akan menjadi maksimal untuk membuktikan Kejujuran adalah strategi/politik terbaik.....Tapi saya yakin bahwa kita semua tak ingin menjatuhkan kredibilitas diri sendiri dengan melakukan tindakan murahan seperti itu...
Read More....

“TRANSFORMASI PARADIGMA PEMBEBASAN DALAM MEWUJUDKAN SOCIAL JUSTICE”


Bismillahir rahmanir rahiim
Assalamu alaikum warhmatullahi wabarakatuh..
Maraknya patologi sosial telah merusak harmonisasi, tata nilai, flat form dan equilibrium sosial. Paket pengkhianatan terhadap kemanusian telah menciptakan belenggu-belenggu yang akan menjadikan masyarakat lebih cenderung fatalistic dan merasa kabur akan teleologis manusia sebagai makhluk sosial. kita meminjam analis Paulo freire dalam melihat fenomena tertsebut, menurutnya ada tiga tipologi kesadaran masyarakat:
Magical consciousness
Kesadaran dalam bentuk ini menganggap bahwa kondisi sosial yang terjadi berupa ketimpangan dan crime- stuructural  terjadi begitu saja tanpa mampu membaca penyebab akan keterpurukan masyarakat berupa pengangguran, kemiskinan, depolitisasi dan dehumanisasi. Sehingga melahirkan sikap apatis dan akan terus terpenjara dalam dominasi elite class sebagai superiority class, paradigma seperti ini membuat kedzaliman lebih langgeng dan kehidupan sosial menjadi statis, saya teringat sebuah ungkapan aporisme  salah seorang sahabat nabi yaitu Ali, KW .“penindas dan yang ditindas sama-sama menggunting keadilan”. Mungkin muncul pertanyaan, Mengapa yang tertindas juga termasuk kategorisasi menggunting keadilan? Jawaban sederhananya karena yang tertindas tidak punya inisiatif untuk melakukan suatu gerakan perubahan alias pecundang, tennia burane (bugis). Makanya sangat dibutuhkan spirit progresif dan spirit pembebasan. Ketika para agent of change menjadi aktivis brutal alias aktivis kadaluarsa, hal ini sangat menguntungkan “korporatokrasi” dalam mewujudkan eksploitasi terhadap masyarakat miskin, underdevelopment terus eksis dalam wajah masyarakat, status quo terkristalisasi membentuk sebuah sistem dan structure yang memberi  legitimasi sosio-politik pada kapitalisme.
Setiap manusia lahir menggenggam kekuatan (power). Namun terkadang kekuatan tersebut menjadi titik lemah disebabkan karena kita tidak mengenal diri/lupa diri (amnesia metafisik), dan tabir-tabir false consciousness (kesadaran palsu) menyelimuti diri. Hari demi hari yang dilalui kaum mustadaiifin menelan pil pahit kehidupan, sedang di balik semua itu para kelompok borjuis modern menikmati setiap detik waktu yang  terlewatkan bagaikan paradise. lentera-lentera kelam menghiasi jiwa  yang terluka dalam kepengatan pergolakan hidup.
Naival consciousness
Kesadaran naïf ini selalu memberi kontribusi pada kepincangan sosial yang terjadi. Bukan sistem yang salah, juga bukan para kapitalis. Tapi salah kita sendiri (menurut penganut teori naival consciousness). Rapuhnya analisis yang dimiliki benar-benar telah menghegemoni paradigma kita, sehingga menganggap bahwa yang terjadi semuanya adalah “salah kita sendiri”.
Satu kesalahan  fundamental  yang kita lakukan, yaitu kita tidak mau sadar.
Sadar akan skematisasi para pemodal, penguasa , multinasional corporation (MNcS), dan sadar akan penghianatan para elite negeri ini. kalo pemimpin kita pengecut dan rela mengabdi pada kekuasaan “korporatokrasi”, muncul a big question siapa lagi yang peduli  nasib proletar-proletar jalanan?
Kritical consciousness
Pada dasarnya bentuk kesadaran kritical melihat realitas sosial dengan sinis dan kemudian menjustifikasi  bahwa sistem sebagai penyebab penderitaan rakyat . sehingga masyarakat harus menyatukan  visi untuk merebut kembali hak-hak yang dirampas oleh elite class dan juga subsummed class. Dengan kesadaran ini kita bisa terbebas dari jerat-jerat sistem yang mematikan dan kembali membentuk wajah sosial yang lebih baik.
Terlalu banyak teori perubahan sosial dalam melihat dan memahami realitas sosial. Namun yang dibutuhkan adalah teori perubahan sosial yang mencerahkan, humanis dan Mampu membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan dengan dua oknum; ballance dan egaliter. Bukan justru kemasan teori yang kelihatannya pro kesejahteraan padahal hanya kedok dan tetap melanggengkan serta mendukung Neoliberalisme, dengan tiga pilar utamanya: person liberty (kebebasan individu ), private property (kapemilikan pribadi), dan private enterprise (inisiasi usaha pribadi ).
kekuatan korporatokrasi” sebagai momok pelaku eksploitasi besar-besaran secara global, menciptakan kekacauan dan berhasil menggerogoti seluruh elemen yang menjadi pilar suatu Negara berdaulat. Tidak berlebihan ketika kita memberi predikat sebagai hantu globalisasi. Cara kerja mereka di bawah naungan kapitalisme telah mengakar pasca perang dingin antara sosialisme vs kapitalisme, dan selanjutnya kapitalisme keluar sebagai pemenang. Berbagai cara mereka lakukan demi menciptakan power yang tak terkalahkan, dimulai dengan sebuah misi untuk melakukan kekacauan atau instabilitas ekonomi, yang pada akhirnya terkonstruksi pada dependensy(ketergantungan).
W.W  Rostow, David MC. Clelland dan Adam Smith. Inilah nama-nama para pakar ekonomi kapitalisme, jauh sebelumnya mereka telah mengerjakan proyek ekonomi dalam hal menanamkan doktrinal ekonomi dependensi. Masih segar dalam pustaka pengetahuan kita bagaimana cantik dan seksi isu yang digelindingkan tentang setiap Negara harus menjadi modern dan ikut arus modernisasi, karena kalau hal ini tidak diindahkan maka terkutuklah kita sebagai Negara dengan standar underdevelopmentalime, syarat utama jadi Negara modern adalah sejauh mana skala dan prioritas pembangunannya. Masih ingat bagaimana awal ambruknya ekonomi nasional kita, krisis ekonomi yang menjadi biang keladi krisis multinasional. Semua berawal dari pemimpin Orde Baru mengikuti  instruksii ekonomi pembangunan ala Rostow. karena mustahil sebuah Negara menjadi modern tanpa pembangunan (yang selanjutnya dikenal ideology developmentalisme) dan tentu lebih mustahil lagi ada pembangunan tanpa adanya capita (modal), dimana bisa mendapatkan modal? Solusi bagi ekonomii kapitalisme, IMF dan World Bank.
Liberation theology (teologi pembebasan) yang diperkenalkan oleh Gustavo Guiterez, lebih menekankan pada perlawanan terhadap penindasan yang terstruktur ini dengan seluruh kekuatan yang kita miliki. Jangan pernah menerima kebenaran atas dasar dogma dan kekuatan dominan. Kadang-kadang paradigm yang eksis dan survive hingga kini bukan lagi dalam takaran benar dan salah. Namun sejauh mana  pendukungnya mendominasi dan yang memiliki power kekuasaan. Inilah yang menjadi problem  memilih sikap objektivisme dalam kerangka nalar kebenaran yang sesungguhnya tanpa embel-embel kekuasaan sebagai alat legitimasi kebenaran. Kini kekuaasaan mampu menciptakan kebenaran dalam standar legitimasi mayority, ingat bahwa kebenaran mayoritas tidak secara mutlak bahwa sesuatu itu benar apa adanya.
Kita mencoba pemaparan yang lebih spesifik berbicara tentang diskursus teologi kadang-kadang banyak orang bersanggapan bahwa teologi hanya milik agama, yang tidak mampu teraktualisasi dalam realitas sosial, seakan-akan ada gap begitu kokoh sebagai dinding pemisah antar teologi dan realitas sosial. Padahal semestinya setiap teologi mampu mentransformasi nilai-nilai tersebut dalam mewujudkan keadilan;  economic justice (keadilan ekonomi) dan sosial justice keadilan sosial). Teologi pembebasan menjadi teori alternatif untuk mengawali sifting paradigm menyambut arah pembangunan yang sesungguhnya. Menata kembali sistem social kita dengan nalar yang tercerahkan dan ideologi yang benar-benar berpihak pada kebangkitan kaum tertindas, tentu kesadaran kritis menjadi basis atau yang menjadi prinsipil dalam setiap teori perubahan , sebagai langkah awal standarisasi awareness.
Agama  hendak menjadi spirit perubahan sosial, dalam pengertian bahwa nilai-nilai agama khususnya Islam, semestinya terinternalisasi kemudian diejawantahkan dalam gerak masyarakat. Dengan istilah lain tauhid seyogyanya menyapa realitas bukan hanya sekedar berisi doktrinal dan berujung pada kesalehan semu. Bukankah Agama Islam  adalah Agama pembebasan. Diharapkan mampu membebaskan kaum musthadaifin dan segala bentuk penjara-penjara kemanusian, yang sesungguhnya mencabut akar-akar kebenaran ilahi (devine). Contoh fenomena yang sangat ironis; ada orang islam yang shalat tengah malam melantungkan nada-nada ilahi. Namun di lain sisi  saudaranya yang muslim di sekitarnya malah menyanyikan lagu-lagu kepedihan (tapi bukan lagu Malaysia), kelaparan dan jeritan-jeritan ketidakberdayaan. Di tempat lain ada yang naik haji sampai tiga kali, tapi mereka hanya bisa apatis terhadap kondisi saudaranya yang tergeletak di rumah sakit berjuang melawan maut karena tidak mampu menebus biaya obat yang harganya di atas langit (katanya kesehatan gratis, gayanaji..). sangat disayangkan karena ini terjadi pada orang yang menyadari Tuhan dalam dirinya, mereka tidak sadar satu hal  mereka telah membuang kunci surga. Ia lupa sisi Islam yang lain.
Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Tentu harapan Bangsa ini untuk maju ada di tangan oraog-orang Islam, ketika muslim sudah bersatu menyatakan nawaitunya akan perubahan dan kebangkitan yakin 100% Bangsa kita kembali menjadi Asian Tiger. Menurut bapak reformasi kita menyatakan ada 5 borok (loopholes) yang terjadi di negra yang kita cintai ini; 1) sosial 2) ekonomi 3) ketidak jujuran dalam pemilu 4) kemanusiaan 5) kepercayaan.
Borok sosial sangat jelas dengan fakta ketimpangan sosial yang terjadi di mana-mana, pemiskinan dan penindasan terhadap rakyat kecil makin marak, hingga sampai pada banyaknya rakyat yang terlantar.”menjadi gelandangan di negeri sendiri”.
Borok ekonomi yang disebabkan oleh rate of economic growth, pemerintah kini tergantung pada IMF,ADB DAN WORLD BANK. Dulunya Indonesia dikenal Asian Tiger (macan Asia) sekarang dikenal sebagai Asian Beggar (pengemis Asia). Kemudian kita bisa melihat realitas hari ini betapa matinya sensitivisme pemerintah atas rakyat kecil dengan kasus-kasus TKI. TKI banyak yang pulang ke tanah air hanya membawa pedih, perih, bekas luka dan kenistaan sebagai manusia, pemerintah hanya bisa mengatakan nanti kita tindak lanjuti dan kata maaf (saya yakin rakyat bisa memaafkan namun tidak bisa menerima). Mana hak kami sebagai warga Negara dan manusia!!!!!?.
Lain halnya dengan ketidak jujuran dalam pemilu, ini sudah menjadi rahasia umum. Jangankan dalam skala nasional skala kampus pun sudah dipertontonkan kebobrokan politik dan keanggkuhan akan  kebodohan (maaf ,sorry, afwan !! itulah kata yang penulis anggap paling halus). Padahal kalau pemilihan itu cacat, maka keabsahan kepemimpinan tersebut cacat totalitas dan seluruh proses yang dilaluinya semuanya cacat legitimasi.
           Dan terakhir persoalan  krisis kepercayaan, masih adakah tokoh yang berjuang atas nama musthadaifin atau itu hanya jargon, slogan menjelang pemilihan umum?. Seorang figure yang benar-benar konsisten mempertahankan idealismenyalah dan memiliki nalar yang tercerahkan yang mampu membawa peradaban dan mengubah wajah indonesia yang lebih bermoral, bermartabat dan berdaulat di mata dunia. Ingat kemerdekaan ini hanyalah kemerdekaan semu, kedaulatan ini hanyalah pelecehan politik international.
           Tauhid,teologi sebagai paradigma pembebasan. Mestinya nilai-nilai tauhid mampu kita aktualisasikan dalam realitas sosial, mari satukan tekad! Lawan penindasan apapun bentuknya dan bagaimanapun modelnya dalam bingkai universal brotherhood. UNTUK USHULUDDIN JAYALAH KEMBALI       
Read More....

Senin, 18 Juli 2011

KOMPETENSI GURU DAN HUBUNGAN SOSIAL


A.    Pengertian kompetensi  guru
Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggungjawab dan layak. Sifat tanggungjawab harus ditunjukkan sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari sudut ilmu pengetahuan, teknologi maupun etika. Hal ini seperti yang tercantum dalam Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan seperti yang diungkapkan oleh Muhaimin (2003:151) dalam Abdul Madjid (2007:5-6), Moh. Uzer Usman (1999:14), dan Zamroni (2000:53).
Kompetensi guru ini merupakan suatu hal yang mutlak yang harus dimiliki oleh seorang guru, dan kompetensi guru tersebut tidak serta merta didapatkan begitu saja, tapi harus ada usaha yang keras untuk memperolehnya. Pada akhirnya kompetensi guru ini merupakan tolak ukur untuk menentukan kualitas guru tersebut.
Penjabaran kompetensi guru menurut Undang-undang khususnya Undang-undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh guru disebutkan mencakup empat dimensi.
Pertama, dimensi kompetensi pedagogik, dimensi ini merupakan kemampuan seorang guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik serta pengelolaan kelas.
Kedua, dimensi kompetensi professional yaitu kemampuan penguasaan materi secara luas dan mendalam.
 Ketiga, dimensi kompetensi kepribadian (personal), dimensi ini merupakan kemampuan pribadi yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan bagi peserta didik.
 Keempat, dimensi komunikasi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi serta berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua atau wali, dan masyarakat sekitar.
Setiap personel dalam organisasi merupakan faktor yang paling dominan dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi. Begitu pula dengan guru. Pendidikan akan menjadi berkualitas apabila guru tersebut memiliki kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dan perubahan. Untuk itu, setiap mahasiswa yang dipersiapkan menjadi guru harus menguasai kompetensi guru sesuai dengan bidang keahlian yang dipelajarinya.
Penyiapan mahasiswa untuk menguasai kompetensi guru yang diharapkan, tidaklah mudah, mengingat mahasiswa sebagai individu memiliki karakteristik tertentu yang diantara satu dengan lainnya berbeda-beda, baik menyangkut potensi dan kemampuan, maupun kondisi lingkungan, keluarga, serta asal sekolah mahasiswa.
Lebih jauh, Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi guru, yaitu :
1. Kompetensi profesional; memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
2. Kompetensi kemasyarakatan; mampu berkomunikasi, baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat luas.
3. Kompetensi personal; yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani
Perkembangan dunia pendidikan dewasa ini begitu cepat. Sejalan dengan kemajuan teknologi dan globalisasi - (semakin merapatnya dunia menjadi satu, tanpa batas dan tanpa sekat waktu). Perkembangan cepat itu perlu diimbangi kemampuan pelaku utama pendidikan dalam hal ini Guru. Kemampuan professional dan ketrampilan mereka perlu ditingkatkan.
Bagi sementara guru, menghadapi perubahan yang cepat dalam pendidikan dapat membawa dampak kecemasan dan ketakutan. Perubahan dan pembaharuan pada umumnya membawa banyak kecemasan dan ketidak-nyamanan. Implikasi perubahan dalam dunia pendidikan, bukan perkara mudah, karena mengandung konsekwensi teknis dan praksis, serta psikologis bagi guru. Misalnya perubahan kurikulum, atau perubahan kebijakan pendidikan. Perubahan itu tidak sekedar perubahan struktur dan isi kurikulum. Atau sekedar perubahan isi pembelajaran. Tetapi perubahan yang menuntut perubahan sikap dan perilaku dari para guru. Misalnya perubahan karakter, mental, metode, dan strategi dalam pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran di kelas menyangkut metodologi dan strategi. Bagaimana seorang guru menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan; ditentukan oleh kemampuan dan ketrampilan guru. Pembelajaran yang menyenangkan dapat mewujudkan pembelajaran yang dinamis, dan demokratis.
Penggunaan teknologi pembelajaran berbasis computer menjadi keharusan. Para guru seharusnya cepat untuk beradaptasi. Seorang guru yang gagap teknologi, menjadi suatu keniscayaan untuk menggunakan teknologi computer dalam proses pembelajaran di kelas. Dan komputer menjadi barang asing baginya. Kemajuan teknologi (computer) mestinya dapat mempermudah bagi guru dalam melaksanakan tugas kependidikan yang diemban. Pembelajaran di kelas pun menjadi hidup, menarik, dan menyenangkan. Situasi kelas yang menyenangkan, dan pengelolaan kelas yang dinamis, dapat mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran.
       Sebagaimana dikenal istilah quantum teaching, quatum learing, dan enjoy learning dalam praktek pembelajaran di sekolah, hakekatnya mengembangkan suatu model dan strategi pembelajaran yang efektif dalam suasana menyenangkan dan penuh makna.
Guru efektif berarti guru demokratis. Guru demokratis biasanya memilih metode pembelajaran dialogis. Guru dan murid secara bersama-sama sebagai subyek dalam proses belajar. Proses belajar menjadi proses pencarian bersama. Proses itu dalam kelas dilaksanakan dengan suasana menyenangkan dan saling membutuhkan. Untuk mencapai kondisi pembelajaran seperti itu, membutuhkan adanya gerakan pembaharuan pembelajaran. Dari pembelajaran tradisional-statis/monoton ke pembelajaran aktif-kreatif dan menyenangkan. Menurut Paulo Freire pembelajaran statis dan tradisional berupa pembelajaran "gaya bank". Secara sederhana Freire menyusun antagonisme pembelajaran "gaya bank" seperti ini: guru mengajar - murid belajar; guru tahu segalanya - murid tidak tahu apa-apa; guru berpikir - murid dipikirkan; guru bicara - murid mendengarkan; guru mengatur - murid diatur; guru memilih dan memaksakan pilihannya - murid menuruti; guru bertindak - murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan guru; guru memilih apa yang akan diajarkan - murid menyesuaikan diri. Dalam pandangan Paulo Freire, pendidikan "gaya bank", murid menjadi obyek penindasan pendidikan. Pendidikan di mana guru tidak memerdekakan peserta didik.
Peranan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru
            Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, –sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.
Dalam perspektif  kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan;
           Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.
             Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannyaBerdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang Guru, dinyatakan bahwasanya  salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru adalah kompetensi professional. Kompetensi profesional yang dimaksud dalam hal ini merupakan kemampuan Guru dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. 
KOMPETENSI SOSIAL SEORANG GURU
Ada empat pilar pendidikan yang akan membuat manusia semakin maju:
  1. Learning to know (belajar untuk mengetahui), artinya belajar itu harus dapat memahami apa yang dipelajari bukan hanya dihafalkan tetapi harus ada pengertian yang dalam.
  2. Learning to do (belajar, berbuat/melakukan), setelah kita memahami dan mengerti dengan benar apa yang kita pelajari lalu kita melakukannya.
  3. Learning to be (belajar menjadi seseorang). Kita harus mengetahui diri kita sendiri, siapa kita sebenarnya? Untuk apa kita hidup? Dengan demikian kita akan bisa mengendalikan diri dan memiliki kepribadian untuk mau dibentuk lebih baik lagi dan maju dalam bidang pengetahuan.
  4. Learning to live together (belajar hidup bersama). Sejak  Allah menciptakan manusia, harus disadari bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tetapi saling membutuhkan seorang dengan yang lainnya, harus ada penolong. Karena itu manusia harus hidup bersama, saling membantu, saling menguatkan, saling menasehati dan saling mengasihi, tentunya saling menghargai dan saling menghormati satu dengan yang lain.
            Pada butir ke 4 di atas, tampaklah bahwa kompetensi sosial mutlak dimiliki seorang guru. Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Karena itu guru harus dapat berkomunikasi dengan baik secara lisan, tulisan, dan isyarat; menggunakan teknologi komunikasi dan informasi; bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik; bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
                Memang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, menguasai berbagai jenis bahan pembelajaran, menguasai teori dan praktek pendidikan, serta menguasai kurikulum dan metodologi pembelajaran. Namun sebagai anggota masyarakat, setiap guru harus pandai bergaul dengan masyarakat. Untuk itu, ia harus menguasai psikologi sosial, memiliki pengetahuan tentang hubungan antar manusia, memiliki keterampilan membina kelompok, keterampilan bekerjasama dalam kelompok, dan menyelesaikan tugas bersama dalam kelompok.
Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan dan juga sebagai anggota masyarakat, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Guru harus bisa digugu dan ditiru. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani. Guru sering dijadikan panutan oleh masyarakat, untuk itu guru harus mengenal nilai-nilai yang dianut dan berkembang di masyarakat tempat melaksanakan tugas dan bertempat tinggal.
Sebagai pribadi yang hidup di tengah-tengah masyarakat, guru perlu memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat misalnya melalui kegiatan olahraga, keagamaan, dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak, pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat.
Bila guru memiliki kompetensi sosial, maka hal ini akan diteladani oleh para murid. Sebab selain kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, peserta didik perlu diperkenalkan dengan kecerdasan sosial (social intelegence), agar mereka memiliki hati nurani, rasa perduli, empati dan simpati kepada sesama. Pribadi yang memiliki kecerdasan sosial ditandai adanya hubungan yang kuat dengan Allah, memberi manfaat kepada lingkungan, dan menghasilkan karya untuk membangun orang lain. Mereka santun dan peduli sesama, jujur dan bersih dalam berperilaku.
            Sumber kecerdasan adalah intelektual sebagai pengolah pengetahuan antara hati dan akal manusia. Dari akal muncul kecerdasan intelektual dan kecerdasan bertindak yang memandu kecerdasan bicara dan kerja. Sedangkan dari hati muncul kecerdasan spiritual, emosional dan sosial.
Sosial inteligensi membentuk manusia yang setia pada kebersamaan. Apabila ada satu warganya yang menderita merupakan penderitaan bersama. Sebaliknya apabila ada kebahagiaan menjadi/merupakan kebahagiaan seluruh masyarakat. Dalam tingkatan nasional, sosial intelegensi membimbing para pemimpin untuk selalu peka terhadap kesulitan rakyatnya dengan mengutamakan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
           Cara mengembangkan kecerdasan sosial di lingkungan sekolah antara lain: diskusi, hadap masalah, bermain peran, kunjungan langsung ke masyarakat dan lingkungan sosial yang beragam. Jika kegiatan dan metode pembelajaran tersebut dilakukan secara efektif maka akan dapat mengembangkan kecerdasan sosial bagi seluruh warga sekolah, sehingga mereka menjadi warga yang peduli terhadap kondisi sosial masyarakat dan ikut memecahkan berbagai permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat.
Read More....