Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2012

Absolutisme vs Relativisme

Jika seekor kucing benar-benar berada di rumah, dan kita yakin bahwa "kucing ada di rumah", dan kita katakan bahwa "kucing ada di rumah", maka jelas keyakinan kita maupun proposisi yang kita nyatakan bernilai benar secara mutlak. Inilah yang saya maksudkan dengan absolutisme. Setiap peyakin kebenaran, mesti seorang absolutis. Dapatkah pernyataan ini kita buktikan secara lebih jelas?
Mari kita mulai dulu dengan menyusun beberapa struktur lingua-franca untuk pembahasan kita saat ini. Apa yang dimaksudkan dengan alam dalam pembahasan kita dalam suatu himpunan. Dalam makalh ini akan ada tiga alam; alam mental, tidak lain adalah himpunan obyek dalam fikiran manusia; alam eksternal, tidak lain adalah himpunan obeyek di luar fikiran manusia; dan alam bahasa, tidak lain himpunan bahasa yang digunakan manusia. Dalam contoh di paragraf sebelumnya, keberadaan kucing di rumah merujuk pada suatu obyek dalam alam eksternal. Sedang keyakinan akan keberadaan kucing di fikiran merujuk pada alam mental. Dan pernyatan "Kucing ada di rumah" merujuk pada alam bahasa.
Seseorang disebut absolutis, jika dan hanya jika, ia yakin ketiga alam tersebut, -mental, eksternal dan bahasa-, dalam kondisi tertentu, mungkin selaras. Artinya setiap hal yang ada di alam eksternal yang difikirkan oleh manusia mungkin ekivalen dengan fikiran manusia tentang hal itu. Lebih lanjut setiap hal dalam fikiran manusia yang dinyatakan dalam bahasa mungkin pula ekivalen dengan pernyataanya di alam bahasa.
Dengan bahasa yang lebih mudah, absolutis yakin bahwa mental manusia mungkin mencapai kebenaran mutlak tentang suatu obyek nyata, dalam arti, sesuaatu "fikiran" atau "keyakinan" dalam alam mental disebut benar jika ia mencerminkan keadaan obyektif sebenarnya di alam eksternal. Lebih jauh, absolutis, yakin bahwa bahasa mungkin digunakan untuk menyatakan kebenaran tersebut.
Sebaliknya seorang disebut relativis, jika dan hanya jika, ia bukan absolutis. Artinya, seorang disebut relativis jika salh satu aatau kedua kriteria di bawah ini terpenuhi;
1.Ia yakin bahwa tidak mungkin apa yang ada di alam eksternal ini ekivalen dengan apa yang ada di alam mental.
2.Ia yakin bahwa tidak mungkin menyatakan apa yang aada di alam mental dengan suatu bahasa yang akurat.

Poin pertama menghancurkan hubungan antara alam mental manusia dengan alam eksternal. Artinya seluruh bangunan pengetahuan dan keyakinan manusia runtuh, karena semua pengetahuan dan keyakinan manusia tidak ekivalen dengan apa pun dalam realitas sebenarnya. Poin kedua menghancurkan kemungkinan untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan keyakinan manusia apa pun.
Relativisme sejati dalam defenisi seperti di atas tidak mempunyai signifikansi sedikitpun untuk di bahas, karena jelas semua proposisinya pun hancur. Kenapa? Karena seluruh bangunan pengetahuan dan keyakinan sendiri pun termasuk proposisi-nya (poin pertama dan poin kedua) tersebut tidak mewakili kenyataan apa pun (berdasar poin pertama), atu jika tidak, seluruh pengetahuan dan keyakinannya sendiri termasuk proposisi-nya (poin pertama dan kedua) tidak mungkin dikomunikasikan sama sekali (berdasar pon kedua).
Filsafat barat modern menyandarkan dirinya dalam berbagai relativisme parsial yang akan diuraikan di bawah ini.
Rene Descartes, yang sering disebut sebagai Bapak Filsafat Modern, mengatakan dalam "Le Discours de la Methode" :
"Berhubung indra ada kalanya menipu kita, saya berniat menganggap bahwa apa yang biasa ditampilkan oleh indra kita itu sebenarnya tidak ada. Di samping itu, mengingat bahwa ada orang-orang yang keliru ketika menalar masalah geometri yang paling sederhana, sampai-sampai melakukan paralogi, serta mengingat pila bahwa saya sendiri pun mungkin keliru seperti yang lain, maka saya buang semua penalaran yang sebelumnya pernah saya buat sebagai pembuktian. Dan terakhir karena beranggapan bahwa sekua fikiran yang muncul pada waktu kita sadar dapat juga datang ketika sedang tidur tanpa ada yang benar satu pun. Saya memutuskan untuk berpendapat bahwa segala pendapat yang pernah terlintas dalam angan-angan tidal lebih benar daripada ilusi-ilusi dalam mimpi saya. Namun segera sesudahnya saya menyadari bahwa sementara saya berfikir bahwa semuanya tidak benar, saya sebagai yang memikirkanya haruslah merupakan sesuatu. Saya perhatikan bahwa kebenaran ini : Saya berfikir, jadi saya ada (Cogito ergo sum) begitu kokoh dan meyakinkan, sehingga anggapan kaum skeptis yang paling berlebihan-pun tidak mampu menggoyahkannya."
Pertama, Descartes meyakini ketidak-absahan indera karena indera mungkin salah.
Kedua, Descartes meyakini ketidak-absahan penalaran kerana penalaran mungkin salah.
Ketiga, Descartes meyakini ketidak-absahan pemikiran karena fikiran tidak mampu membadakan yang khayal (atau mimpi) dan yang nyata.
Jelas argumentasi Descartes ini salah. Kenapa?
Pertama, karena argumentasi ini menghancurkan dirinya sendiri. Dengan tiga proposisi berturut-turut ini, jelas
1. Hubungan antara alam eksternal dan alam fikiran manusia terputus total.
2. Segala jenis penalaran apa [un nafi
3. Segala jenis pemikiranapa pun tidak absah,
Sehingga jika benar seseorang meyakini ketiga proposisi ini, tidak mungkin ia mempunyai pengetahuan ataupun keyakinan apa pun.
Kedua, dalam tiap proposisi dalam argumentasi tersebut terdapat kesalahan pengambilan kesimpulan karena terlalu menggeneralisasi. Contohnya adalah proposisi pertama, karena indera mungkin salah, maka kita mesti meyakini bahwa indera mungkin salah, tidak bisa digeneralisasikan menjadi bahwa indera selalu salah sehingga ia tidak mingkin pula ia benar. Demikian pula terjadi pada proposisi kedua dan ketiga.
Saya yakin Descartes sendiri tidak meyakini ketiga proposisi tersebut dalam artian yang hakiki. Contoh yang jelas adalah ketika Descartes menyatakan Cogito ergo sum (Aku berfikir, maka aku ada). Sebenarnya saat ini, Descaartes telah menggunakan metode penalaran silogisme Aristoteles;
Premis minor : Sesuatu yang berfikir pasti ada.
Premis minor : Aku befikir.
Konklusi : Aku ada.
Ini dapa dilihat langsung dalam pernyataan Descartes dalam dua paragraf berikutnya "La discours de la methode";
"Saya perhatikan bahwa dalam dalil "saya berfikir, jadi saya ada" tak ada suatu pun yang menjamin kebenarannya selain bahwa saya melihat dengan sangat jelas bahwa untuk berfikir saya harus ada."
Analisa historis mungkin menjelaskan kenyataan bahwa mungkin bagi kita untuk memahami "kesalahan logika" Descartes sebagai upaya untuk melawan sketisisme yang merajalela saat itu.
Lain lagi dengan Emmanuel Kant, yang membatasi alam eksternal di mana hukum logika berlaku. Menurut Kant; ilmu matematis memiliki kebenaran absolut, ilmu pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi memiliki kebenaran relatif, dan subyek-subyek metafisika tak mungkin dicapai oleh akal manusia sama sekali. Pernyataan Kant ini mempunyai dua kemungkinan.
Pertama, pernyataan bahwa suyek-subyek metafisika tak mungkin dicapai oleh akal manusia dalam arti harfiah. Tapi, bagaimana mungkin kita bisa menilai pernyataan Kant ini salah atau benar, sedang pernyataan itu sendiri menyangkut hal yang meta-fisis sehingga hal ini tak mungkin dicapai oleh akal kita sama sekali?
Kedua, jika artinya subyek-subyek metafisika tak mungkin dibahasakan sama sekali oleh akal manusia. Dalam hal ini, karena proposisi hal ini pula termasuk hal yang metafisis, proposisi ini pun tak mungkin dibahasakan sama sekali. Jadi seharusnya biarkanlah proposisi ini melanglang buana dalam alam mental kita tanpa pernah dinyatakan bahkan oleh Kant sendiri.
Relativisme parsial jenis lain mungkin seperti apa yang dinyatakan oleh Ludwig Wittgenstein dalam Tractatus -nya;
"Sesuatu yang memang dapat dikatakan haruslah diungkapkan secara jelas, sedang sesuatu yang tidak dapat dikatakan sebaiknya didiamkan saja."
Secara khusus, Wittgenstein menyebutkan tiga hal yang tidak dapat diungkapkan secara jelas - yang disebutnya sebagai The Mystical-, sehingga sebaiknya didiamkan saja, yaitu ;
1. "Subyek tidak termasuk dalam lingkup dunia, melainkan hanya merupakan suatu batas dunia."
2. "Kematian bukanlah merupakan suatu peristiwa kehidupan, sebab kematian itu bukan merupakan kehidupan yang dijalani."
3. "Allah tidak menyatakan diri-Nya dalam dunia."
Jadi, jika seseorang meyakini proposisi Wittgenstein tersebut, ia tidak akan pernah mempermasalahkan adanya dirinya sendiri sebagai subyek, ada atau tidaknya kematian bahkan ada atau tidaknya Tuhan.
Relativisme parsial ala Wittgenstein tidak mengakui adanya alam mental, dan Wittgenstein langsung merelasikan alam kenyataan dengan alam bahasa. Lebih lanjut, ia membatasi alam eksternal yang dapat dirlasikan secara ekivalen dengan bahasa yang akurat, yaitu alam non-mistikal. Maka jika benar Wittgenstein berpendapat seperti ini, jelas pendapatnya salah. Kenapa?
Karena argumentasinya menghancurkan dirinya sendiri.
Pada saat Wittgeinstein membahas ketiga hal yang termasuk ke dalam The Mystcal, subyek, kematian, dan Allah, karena mereka semua tidak termasuk dalam lingkup dunia, maka dari-mana ia memperoleh kesimpula itu? Kalau dikatakan dari alam bahasa itu sendiri, bukankah menurutnya setiap proposisi harus jelas? Dan bukankah menurutnya setiap proposisi harus jelas? Dan bukankah menurutnya jelas adalah mewakili suatu keadaan faktual tertentu? Jadi secara otomatis, karena Wittgenstein memperoleh kesimpulan tentang subyek, kematian, dan Allah dari alam eksternalnya, ia musti memperolehnya dari alam mentalnya. Jadi argumentasi Wittgenstein memestikan keberadaan alam mental, minimal alam mentalnya sendiri.
Proposisi, "Sesuatu yang memang dapat dikatakan haruslah diungkapkan secara jelas, sedang sesuatu yang tidak dapat dikatakan sebaiknya didiamkan saja," Ini sendri tidak jelas. Kenapa? Karena masih bisa dipertanyakan lagi apa arti jelas dan arti "jelas" bagi setiap orang relatif. Misalnya ; mungkin kata "gaya" jelas artinya bagi seorang fisikawan, tapi tidak jelas artinya bagi fisikawan lain. Misalnya lagi dapatkan Anda menjelaskan kepada sya kapan sebuah jambu yang dimakan seseorang masih disebut jambu atau sudah menjadi bukan jambu? Jadi karena arti "jelas" itu relatif, tentu ia tidak dijamin jelas artinya bagi setiap orang. Arinya proposisi ini sendiri, didiamkan saja. Didiamkan seperti rumput yang bergoyang.
Keadaan orang yang meyakini paham relativis ini mengingatkan saya pada "Shummum bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun." (Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali). Relativis seolah kehilangan seluruh inderanya, karena mereka sendirilah yang menafikannya. Kemudian bagaimana mereka bisa mengreksi kebenaran seluruh pengetahuan dan keyakinannya?
Kembali pada pembahasan semula, seorang yang meyakini pengetahuan ataupun keyakinan apapun mesti adalah absolutis. Kenapa? Karena jika ia tidak absolutis maka mustahil ia yakin apa pun yang ada dalam fikirannya mempuyai relasi dengan suatu yang benar-benar ada di alam nyata atau mustahil ia yakin bahwa ppernyataan keyakinan dalam alam bahasa sesuai dengan apa yang ada dalam fikirannya sendiri. Sehingga, ia tidak akan meyakini apapun atau walaupun meyakini terpaksa diam seribu bahasa akan keyakinannya tersebut.
Sebagai penutup, saya mengajak anda semua merenungi; wa qul jaa ‘al-haqqa wa zahaaqal-baathil, innal baathila kaana zahuuqa. (Dan katakan, telah tiba kebenaran dan telah lenyap kebatilan, dan sesungguhnya kebatilan itu benar-benar sirna). Yang benar tetap benar, dan harus kita katakan benar. Yang salah tetap salah, dan mestilah sirna.
Wallohu a’lam
Read More....

Minggu, 12 Februari 2012

EPISTEMOLOGI ISLAM

Pembahasan ilmu pengetahuan dalam Islam dapat ditinjau dari dua sisi: ontologi dan epistemologi. Walaupun pembahasan tersebut dalam literatur Islam tidak tersusun secara rapi dan tersendiri, kita dapat menemukan pembahasan tersebut dalam beberapa kajian filsafat seperti pembahasan yang berkaitan dengan non meterialnya ilmu, tingkatan-tingkatan ilmu, terbaginya ilmu ke dalam beberapa bagian, dll. Secara ontologis, kita bisa membahas ilmu dari keberadaanya, apakah ia materi ataukah bukan. Kita sama sekali tidak membahas tentang gambaran atau comprehensif ilmu. Adapun dari sisi epistemologi, kita bisa membahas ilmu dari sisi representifnya setelah kita membuktikan secara ontologis tentang keberadaan ilmu tersebut. Jadi, bisa dikatakan bahwa kajian epistemologi ini sebenarnya adalah pembahasan derajat kedua. Meskipun demikian, secara subtansial pembahasan epistemologi ini sangat berbeda dengan pembahasan pertama tadi. Dalam kajian kedua ini kita dapat meninjau bagian-bagian ilmu seperti pembagian ilmu kepada representatif dan judgement (justifikasi); ataupun pembagian lainnya kepada empirical knowledge dan intuitif knowledge (ilmu husuli dan hudhuri); atau pada aksioma dan discursiv dan pembahasan tentang secondary intelligible (ma'kul stani). Banyak filosof Islam mencurahkan segala kemampuan mereka untuk mengkaji pembahasan seputar epistemologi ini. Salah satu pembahasan yang menjadikan pertentangan di antara filosof muslim adalah berkaitan dengan tolok ukur benar dan salah. Para filosof Islam berpendapat bahwa antara alam understanding (dzihni) dan alam external (khariji) memiliki hubungan yang erat. Gambaran yang dimiliki oleh ilmu –alam understanding (zihn)- tidak sekedar gambaran yang tidak memiliki kenyataan. Apa saja dari gambaran yang ia tampung itu memiliki kenyataan (realitas).Akan tetapi, para filosof yang lainnya memiliki pendapat berbeda. Bagi mereka, hubungan antara alam understanding dan external bukanlah hubungan gambar dengan objeknya. Untuk memudahkan kita memahami pendapat ini ada satu pendekatan yang sangat mudah untuk kita cerna bersama. Ketika kita menggambar kuda di atas kanvas, apa yang ada di atas kanvas tersebut ingin memberikan pesan kepada kita bahwa gambar tersebut memiliki objek dan ia adalah kuda yang ada di alam realitas: bernafas, makan, minum, berjalan, dll. Ini salah satu dari bahasan yang terdapat dalam filsafat Islam tentang ilmu. Oleh karna itu, alangkah baiknya kalau kita gambarkan beberapa masalah secara universal tentang ilmu baik dari sisi ontologis ataupun epistemilogis, walaupun pada akhirnya, kajian ini hanya difokuskan pada bahasan kedua (epistemologi)

Sumber-Sumber Ilmu
Ilmu manusia tersusun dari hal-hal yang sederhana. Contohnya, kalau kita hendak mengetahui manusia, maka kita terlebih dahulu harus mengetahui definisi manusia sehingga kita dapat membedakan antara manusia dari yang lainnya. Pengetahuan kita tentang manusia tersusun dari beberapa hal-hal yang simple yaitu bahwa manusia itu berpikir, berbadan, dan perasa. Akan tetapi, yang menjadi objek kajian para filosof Islam ialah: dari manakah manusia mendapatkan ilmu-ilmu simple tersebut? Dengan metode atau perangkat apakah manusia mendapatkan ilmu-ilmu simple tersebut? Dari sinilah munculnya perbedaan antara filosof-filosof dari zaman Yunani sampai sekarang: antara Plato dan Aristoteles, antara Avessina dan Syuhrawardi, antara kaum paripatetik dan intuitivis, serta antara rasionalis dan empiris.
Batasan Ilmu
Sebelum kita memasuki bagian kedua dalam rangkaian pembahasan tentang ilmu, alangkah baiknya kalau kita awali bahasan ini pada kepercayaan dan penerimaan tentang realitas alam karena ini adalah sebuah pijakan mendasar dalam segala macam pembahasan yang ada di alam jagad raya ini khususnya dalam kajian ini.Tidaklah mungkin bagi kita untuk memulai segala macam aktivitas, baik aktivitas berfikir ataupun hal-hal yang bersifat praktis, tanpa berlandaskan atau berpijak pada kenyataan realitas alam, bahwa di alam ini, ada sesuatu yang membuat kita terobsesi untuk mengetahui ataupun mendapatkannya. Kajian seperti ini murni ontologis karena pembahasan tentang keberadaan bukanlah representasi dari sesuatu itu. Kita akan kembali sejenak melihat masa lalu perjalanan pemikiran manusia di alam ini. Pada zaman dulu, Yunani adalah pusat peradaban manusia. Dari situlah bermulanya tradisi berpikir. Muncul beberapa aliran yang menyatakan bahwa manusia tidak mungkin akan berhasil mendapatkan kebenaran, atau bahwa manusia adalah tolok ukur benar dan salah. Semua bergantung persepsi manusia terhadap sesuatu. Jika sesuatu itu menurut A benar, belum tentu bagi B juga benar. Sampai pada akhirnya, muncullah Socrates yang membawa obor kebenaran berkaitan dengan tradisi berpikir ini (walaupun pada akhirnya harus meminum racun sebagai akibat dari "ulah"nya). Usaha keilmuannya itu kemudian diteruskan oleh Plato dan dikembangkan oleh Aristoteles sehingga tersusunlah logika aristotelian. Kemudian, bergantilah zaman. Muncullah generasi muda yang menganut paham ragu. Mereka meragukan segala yang pernah dirintis oleh generasi sebelum mereka. Mereka skeptis. Paham skeptisisme ini, pertama kali dicetuskan oleh Protagoras (485-410 SM) Dia berpendapat bahwa persepsi manusia adalah tolok ukur benar dan salah. Kemudian, paham ini dikembangkan secara ekstrim oleh Georgias(483-375 SM) yang berpendapat bahwa hakikat itu tidak ada. Kalaupun ada, tidak mungkin bagi manusia untuk mengetahuinya. Kalaupun bisa untuk diketahui, hakikat itu tidak dapat ditransfer kepada yang lainnya (tak dapat dipahamkan kepada yang lainnya.) Jika kita amati secara seksama, kita dapat memberikan beberapa asumsi dari pernyataan-pernyatan mereka itu. Pertama, mereka melontarkan pernyataan-pernyataan tersebut demi kepentingan politik pada zamannya. Kedua, mereka ingin meletakkan manusia pada derajat terendah (artinya. Ini adalah satu penghinaan terhadap manusia). Ketiga, mereka hanya sekadar “bermain-main” dengan bahasa. Dengan demikian segala macam tolok ukur etika, agama, politik, dan kebenaran akan rubuh. Akibatnya, segala macam bentuk pelanggaran-pelanggaran etika, agama, dan politik dapat dibenarkan dengan justifikasi-justifikasi mereka. Pada akhirnya, tidak akan tersisa tempat bagi kebenaran absolut. Statement dalam paham skeptisme --atau diistilahkan dengan sophistika-- yaitu “tidak ada pengetahuan absolut yang dapat diyakini oleh manusia” dapat kita teliti secara seksama, sebagaimana akan kami uraikan berikut ini.
Kritik Terhadap Paham Sophistika
Ada beberapa premis yang harus kita pahami sebelum kita mengkitik paham ini, yaitu sebagai berikut. 1. Dengan melihat kembali sejarah munculnya paham ini, kita dapat memahami apa yang diinginkan oleh penganut paham ini dan latar belakang apakah yang menjadikan mereka berpaham demikian. Kemampuan beretorika di dalam pengadilan yang dapat “mengubah” dan memenangkan kesalahan. Tentu, ini semua mereka dapatkan dengan membuat beberapa pengelabuan dan pembohongan terhadap manusia awam ataupun orang-orang yang berkepentingan politik di zamannya. Salah satu cara yang mereka gunakan untuk mengelabui orang awam adalah dengan bahasa yang diputarbalikkan. Contohnya, pernyataan seperti: Aghre mencintai isterinya, begitu pula Agreei. Dalam kalimat ini dapat kita temukan dengan jelas penyamaran bahasa karena kalimat tersebut bisa menimbulkan pemahaman beragam. Pemahaman yang mungkin muncul adalah: 1) Aghre mencintai isterinya begitu pula Agreei mencintai isteri Aghre. 2) Aghre mencintai istrinya dan Agreei mencintai isterinya sendiri. 3) Aghre mencintai Agreei. Dengan menciptakan pemahaman yang beragam dari statement tersebut, mereka dapat menyatakan bahwa tidak kebenaran absolut bagi manusia. Alasannya, manusia untuk dapat memahami pikiran orang lainnya menggunakan alat berupa huruf-huruf yang tersusun menjadi kata-kata, dan kata-kata tersebut tersusun menjadi bahasa. Sementara itu, bahasa dapat dipahami secara beragam dan bergantung terhadap asumsi masing-masing individu. Akibatnya, kebenaran pun mengalami hal yang sama. Jika kita memfokuskan kritikan pada masalah bahasa maka dapat kita sodorkan beberapa kritik, yaitu sebagai berikut. a. Di dalam bahasa juga terdapat beberapa aturan yang harus dijaga oleh penggunanya. Bila aturan ini tidak dijaga, akan terjadi kesalahpahaman audien. b. Realitas yang ada di hadapan kita tak dapat diubah dengan hanya menggunakan bahasa. Contohnya, bila kita memiliki pengetahuan bahwa api itu panas dan membakar maka siapapun tak akan dapat mengubahnya dengan bahasa sehingga kita dapat meyakini bahwa api itu dingin dan tak membakar. Ada sebuah anekdot dalam hal ini. Dahulu kala, hidup seorang bernama Juha. Ia datang ke suatu perkampungan dan membohongi penduduk setempat dengan mengatakan bahwa di kampung A sedang dibagikan makanan secara gratis. Akibatnya, seluruh penduduk tadi berbondong-bondong meninggalkannya menuju kampung yang ia sebutkan. Melihat kenyataan demikan, dia pun akhirnya beranggapan bahwa apa yang ia katakan ada kemungkinan benarnya. Lalu, ia pun berangkat menuju ke kampung tersebut. Anekdot tersebut terlihat pas untuk menggambarkan kaum sophis. Mereka menyebarluaskan paham “tidak ada kebenaran absolut yang dapat diyakini oleh manusia” dengan kemampuan retorika mereka. Awalnya, paham ini disebarluarkan untuk sekedar untuk mencari sesuap makanan di pengadilan dan untuk kepentingan politik. Namun akhirnya, ketika masyarakat awam meyakininya, mereka pun ikut meyakininya. Kita dapat mengajukan kritik terhadap pendapat mereka dari sudut pandang lainnya yang lebih logis. Setiap manusia selalu merasakan adanya kebutuhan terhadap suatu objek (misalnya, kebutuhan terhadap makanan) di dalam kehidupannya sehari-hari. Dari situlah ia merasa dirinya ada dan objeknya itu pun ada. Manusia dapat saja mengatakan bahwa dirinya mengingkari keberadaan realitas secara mutlak, tetapi itu semua hanya sebatas verbal (kata-kata), bukan satu keyakinan yang ada pada lubuk hati ataupun akal budinya. Hal ini disebabkan segala macam bentuk pengingkaran terhadap realitas secara mutlak adalah keyakinan pada keberadaan realitas itu sendiri. Paling sedikit, ia telah menyadari bahwa dirinya yang telah mengingkari realitas. Artinya, tanpa disadarinya, dia telah meyakini adanya dua hal. Pertama, dirinya sendiri. Kedua, realitas yang akan ia ingkari (walaupun realitas itu dalam bentuk sebuah gambaran yang ada di akal budi). Statement kaum sophis juga bisa kita kritik dengan cara mengajukan pertanyaan "Apakah statemen itu absolut atau tidak?" Terlihat di sini, ada kontradiktif yang terjadi. Jika jawabannya tidak, berarti masih dimungkinkan bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang absolut. Jika jawabannya ya, paling tidak mereka telah meyakini satu hal yang absolut yaitu statement tersebut. Hal ini tentu bertentangan dengan statement mereka sendiri karena dengan demikian telah terealisasi satu pengetahuan yang “absolut” dan “benar” menurut mereka. 2. Oleh karenanya, terlebih dahulu kita harus mempercayai ataupun mengimani adanya realitas sehingga kajian dari pembahasan ini lebih terarah. Semakin kita berbicara tentang realitas semakin kuat pula keimanan kita terhadapnya. Ini semua dikarenakan keberadaan realitas adalah hal yang sangat apriori. Para filosof Islam, seperti AllamahThabathabai, Molla Hadi Sabzawari, dan Molla Shadro dalam karya-karya mereka selalu memulai kajian dengan pembahasan tentang adanya realitas (wujud / being) sebelum membahas yang lainnya. Hal ini disebabkan penerimaan terhadap realitas adalah kunci dan modal bagi bahasan yang lainnya. Pada makalah kami ini, bahasan tidak dimulai dengan kajian tentang realitas (wujud) dengan anggapan bahwa kita bukanlah kaum sophis. Oleh karena itu, kita langsung masuk pada permasalahan epistemologi yang merupakan satu bagian dari realita tersebut.
Pandangan Filosof Muslim
Sebagai pengantar dari pembahasan ini telah kita singgung bahwa kajian tentang epistemologi dalam Islam tidak tersusun secara rapi, bahkan “berserakan”dalam beberapa kajian filsafat. Oleh karena itu, seyogyanya kita telaah secara sekilas beberapa kajian tersebut agar kita mendapatkan pandangan yang universal terhadap bahasan ini. Beberapa pandangan umum terhadap kajian epistemologi di dalam literatur Islam antara lain sebagai berikut. 1. Pembahasan Filosofis Berkenaan dengan Kategori Realitas di alam ini oleh para filosof dibagi-bagi dalam beberapa kategori. Misalnya, manusia dan hewan dikategorikan sebagai makhluk hidup. Makhluk hidup dan makhluk tak hidup dikategorikan sebagai materi. Materi dan non materi dikategorikan sebagai substansi. Substansi inilah yang menempati kategori tertinggi (jins 'aly). Artinya, realitas di alam ini terbagi-bagi menjadi beberapa jins 'aly, antara lain, substansi, kualitas, madah (bahan materi), dan shurah (bentuk) Dalam makalah ini akan dibahas kategori kaif (kualitas). Kaif ini dibagi menjadi empat bagian: kaif mahsus (kualitas yang dapat diindera), kaif nafsani (kualitas yang ada pada jiwa), kaif khusus yang berhubungan dengan kuantitas dan kaif isti'dadi (kualitas potensial).Untuk kaif nafsani, mereka menyebutkan beberapa contoh antara lain: keinginan, rasa sakit, kehendak, dll. Mereka meletakkan ilmu sebagai bagian dari kaif nafsani. Ilmu yang masuk dalam bagian kaif nafsani tersebut adalah ilmu hushuli. Oleh karena itu, ilmu hushuli adalah sifat (aksidental) bagi jiwa (nafs). Dalam pembahasan kategori, para filosof melihat dan meninjau ilmu dari kaca mata ontology. Jadi, salah satu dari sisi ilmu adalah sifat ontologisnya. Dari sudut pandang ini, mereka melihat ilmu sebagai salah satu fenomena yang ada dan nyata. Tapi, yang masih sering menjadi bahan pertanyaan adalah hal yang berkaitan dengan hakekat dan esensi ilmu tersebut. Kadang-kadang, seseorang mengetahui sesuatu ada di pikirannya sebagai fenomena yang ada di dalam dirinya. Akan tetapi, belum jelas baginya hakekat dan esensinya. Contohnya, kita telah mengetahui warna merah. Akan tetapi, pertanyaan yang mengarah kepada kita ialah apakah esensi dari warna merah itu?Apakah ia bersifat aksidensial ataukah subtansial? Apakah keberadaannya independen ataukah tidak? Berkaitan dengan pertanyaan yang mengarah pada hakekat dan esensi ilmu tadi, para filosof menjawab bahwa keberadaan ilmu bahwa bagian dari masalah aksidental bukan subtansial. Dengan kata lain, ilmu dikategorikan ke dalam kaif nafsani. 2. Kesatuan Subjek dan Objek Masalah kesatuan objek dan subjek pengetahuan adalah salah satu kajian filosofis yang pada awalnya dimunculkan oleh Fakhr Al-Razi. Akan tetapi, kajian ini mengalami perkembangan yang cukup pesat pada zaman Mulla Shadra. Dalam kitab monumentalnya, "Al-Asfar Al-Arba'ah", beliau menjelaskannya secara terperinci masalah-masalah yang berhubungan dengan tingkatan-tingkatan ilmu, pembagian ilmu kepada intuitif knowledge dan empirical, serta pembahasan tentang kesatuan objek dan subjek pengetahuan. 3. Wujud Dzihni (Wujud yang Ada di Dalam Pikiran) Masalah wujud dzihni ini menjadi pembeda signifikan antara filosof dengan teolog (mutakallimin). Para teolog mengingkari masalah ini dengan memaparkan pendapat yang bertentangan dengan pendapat para filosof. Mereka memunculkan pandangan “idhafah” ataupun “syabah”. Menurut para filosof, pengingkaran terhadap masalah wujud dzihni ini akan menjadikan manusia sophistik. Yang menghubungkan antara understanding dan external hanyalah esensi. Bila ini diingkari maka tidak akan ada hubungan apapun di antara keduanya. Akibatnya, muncullah sophistika. 4. Salah satu dari masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah understanding dan external adalah tolok ukur benar dan salah. Agar ilmu kita benar harus memiliki tolok ukur yang jelas. Dengannya, kita bisa terlepas dari belenggu sophistika. Dari pembahasan ini, bercabang beberapa pembahasan, yaitu a) makna hakekat (truth), b) definisi kesamaan dengan hakekat --dengan kata lain, teori kesamaan dengan hakekat ( the correspondence theory of truth)-- dan c) pembahasan tentang letak tolok ukur tersebut; apakah hanya sekedar permainan bahasa, permainan akal budi manusia ataukah memang benar-benar ada. Pembahasan ini dikenal dengan pembahasan state of affairs (nafs al-amr). Masalah ke-4 ini sangat penting bagi kita sebagai orang yang beragama.Kita dituntut mencari kebenaran agama kita. Untuk itu, kita harus mempertanyakan di mana tolok ukur kebenaran agama, sebatas manakah asas-asas agama mengenai state of affairs, ataukah agama hanyalah buatan manusia yang sama sekali tidak memiliki tolok ukur kebenaran dan hakekat. Sebagai manusia yang berpikir, kita tidak boleh mendiamkan masalah ini berjalan begitu saja tanpa penyelesaian. Kajian terakhir ini disebut dengan epistemologi agama dan di dalamnya juga dibahas tentang dasar-dasar epistemologi agama. Ketika kita dapat membuktikan kebenaran agama maka dari situlah kita dapat membicarakan tentang pluralisme agama: apakah pluralisme agama itu benar ataukah tidak; di manakah letak benar dan salahnya pluralisme agama; sebatas manakah pluralisme agama menyentuh state of affairs atau sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya; dan selanjutnya. 5. Setelah kita selesai melakukan kritik terhadap sophistika dan telah kita buktikan kesalahan paham ini, kita akan memasuki permasalahan baru, yaitu batasan kemampuan akal budi manusia. Kita berpijak pada satu dasar yang pasti bahwa, di dalam diri manusia ada kecondongan dan keinginan rasa tahu terhadap sesuatu. Tetapi, apakah ia mampu untuk mengetahui segala macam yang ia inginkan ataukah tidak. Dari sinilah muncul beragam pandangan mengenai hal tersebut. Dengan kata lain, apakah manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui apa saja yang ia inginkan ataukah tidak. Sebagian dari para filosof berpendapat bahwa kemampuan manusia hanya terbatas pada hal-hal material yang dapat ia indra dan bahasan metafisik keluar dari kemampuannya. Kaum gnostic berpendapat bahwa di alam ini ada hakekat yang akal budi manusia tidak akan sampai padanya. Para filosof muslim meyakini bahwa akal budi manusia mampu mengetahui hal-hal fisik ataupun metafisik, akan tetapi ketika berhadapan dengan masalah zat Tuhan mereka berhenti dan diam. Dari beberapa pendapat yang ada di atas, ada pesan yang tersirat, yaitu bahwa ilmu manusia terbatas. “Satu dasar” tersebut adalah pijakan kita untuk memasuki ke dalam pembahasan-pembahsan selanjutnya. Dan jika kita ingin mengaji dan menggali dasar tersebut, kita akan berhenti pada satu permasalahan baru yaitu intuitiv knowledge (ilmu hudhuri). Oleh karena itu, penolakan terhadap realita seperti yang dilakukan sophistika sama sekali tidak benar dan keluar dari batas-batas akal karena pijakan kita adalah hal-hal yang kita rasakan di dalam diri kita.

Read More....

Jumat, 22 Juli 2011

REFLEKSI SPIRITUAL IBNU ‘ARABI DALAM MENYINGKAP HAKIKAT LAFADZ ALLAH

PENDAHULUAN
Umumnya, ulama mengatakan, ‘’istimbath’’ibnu ‘arabi memang benar bersumber dari kitabullah. Tetapi ada pula yang lain yang mengatakan bahwa ibnu ‘arabi bukanlah bernama ‘’muhyiddin’’ yang bermakna penghidup agama, akan tetapi dia adalah ‘’mahiyuddin’’ yang berarti penghapus agama, dengan dalih, apa yang telah diproduksi dari pemikirannya tidak berasal dari dan mencerminkan diri islam, baik sebagai agama maupun akidah. Mereka menuduh ibnu arabi sebagai orang yang merancukan agama melalui pemikiran filsafatnya yang dikemas dengan label agama. Memang para peneliti pemikiran ibnu arabi sampai detik ini selalu berada pada posisi perbedaan dan perselisihan.
Terlepas dari semua itu, ibnu arabi tetap dinilai sebagai penutup fase salafiyah, dimana karya-karyanya berlangsung sampai enam abad. Dan digelari sebagai ‘’lautan ilmu tasawuf’’ dia membangun ajaran tasawufnya, berdasarkan ajaran alam musyahadah (kesaksian-kesaksian), dan alam tajribah (alam yang telah dialami sendiri). Dia tidak menempu jalan dari bawah ke atas, melainkan sebaliknya dari ats ke bawah, tidak belajar di kolam-kolam berenang, namun langsung terjun kesungai ataupun mungkin di lautan. Dengan percobaan dan pengalamannya tersebut berhasil mengantarkan beliau pada tingkat paling atas atau pada lautan yang terdalam, bahkan dia tenggelam didalamnya. Namun demikian, kita juga perlu melihat dan membaca apa yang telah dialami oleh ibnu arabi secara mendalam tersebut, sehingga tidak dengan mudah mengeluarkan statemen yang tidak benar terhadap pelaku tasawuf dan tasawuf itu sendiri. Ilmu tasawuf merupakan ilmu yang terhormat, bahkan mereka yang terjun mendalaminya menyanjungnya sebagai ilmu kemanusiaan yang bernilai universal dan sebagai substansi islam yang teramat mendalam.ibnu arabi sebagai filosof agungdan sufi yang terhormat telah menganalisis masalah-masalah yang sangan rumit menurut jangkauan pemikiran dan hayalan msnusia umumnya, karena yang ini, akan didapati keindahan-keindahan rahasia yang begitu mengagumkan lagi sangat agung, seakan pikiran kita dibawah secara bertahap, lalu kembali datang dengan wajah baru dalam bentuk yang lebih bercahaya dan universal. Itulah keunggulan metode ibnu arabi dalam menulis dan mengangkat rahasia-ra hasia ilahi, didalam setiap karyanya.
Akhirnya, sungguh sebagai kebanggaan bagi kami, dapat memilih dan mempersembahkan salah satu karyanya dari beberapa karyanya yang monumental ‘’kalimatullah, kitab al-jalalah’’. Hal ini disebabkan beberapa pemikiran antara lain:
Di dalam tulisan ini, kami mencoba mengurai secara jelas tentang; rahasia dibalik lafadz allah, keesaan ilahi dalam lafadz allah, kesaksiaan atas zatnya dan yang ada hanya allah.
Besar harapan kami, semoga allah memberi petunjuk-Nya dan mamfaat melalui karya kecil ini, sehingga kami digolongkan dalam barisan hamba-hamba yang mendafat keridhohan-Nya, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.sesungguhnya allah adalah zat maha baik dan maaha penyayang. Shalawat dan salam semoga selalu tetap dicurahkan kepada junjungan nabiyullah Muhammad sang kekasih allah.
Analisa itu berada di alam rasa dan ruh, sehingga metode yang dipergunakannya lebih baik memakai simbol dan isyarat dalam menta’birkan apa-apa yang tersurat dalam perasaan jiwanya.
Barangkali, yang demikian itulah penyebab mengapa sulit untuk memahami pemikiran filsafat sufistik ibnu arabi, sehubungan dengan di atas ibnu arabi mencoba menjembatangi dengan dua jalan logika:
1. Mantiq al-aql; mantik akal
2. Mantik al-dzauq; mantik rasa
Tasawuf islam sendiri secara global adalah alam rasa. Oleh karenanya ketika suatu hari, seorang murid ibnu arabi menceritakan kepadanya, “banyak orang yang mengingkari ilmu kita, mereka meminta bukti dan dalil pijakannya’’. Ibnu arabi menjawab: ‘’ jika ada seorang datang dan meminta bukti atau dalil ilmu rahasia tuhan, maka katakanlah kepadanya: apa bukti kalau madu itu manis? Orang tersebut pasti mengatakan kepadamu bahwa hal itu tidak dapat kita ketahui, kecuali dengan mencicipinya, lalu katakan kepadanya; demikian pula ilmu rahasia ketuhanan, yang sama sekali tidak berbeda dengan dunia madu!’’.
Memang betapa indah, apa yang dicapai oleh lisan batin, yang sementara tidak akan tercapai oleh lisan lahir. Maka apabila kita lakukan pendekatan lewat buku SAW, penghujung para nabi dan rasul.

PEMBAHASAN
-Sekilas Tentang Ibnu ‘Arabi
Dia adalah abubakar muhammad bin ali, berasal dari kabilah hatim at-tha’I, dan terkenal dengan sebutan ibnu arabi, dengan julukan muhyiddin (penghidup agama), dia adalah barzakhul arifin al-arif billah seorang pakar teologi.
Ibnu arabi dilahirkan di kota murcia; daerah dikawasan laut tengah. Ibnu arabi meninggal pada tahun 638 H. (1165-1240 M), di kota damaskus. Ibnu arabi mempunyai dua orang anak, setelah meninggal, mereka juga dikuburkan di tempat yang sama, sampai sekarang makam itu masih ramai doikunjungi.
Melalui kedzuhudannya, ibnu arabi menempuhnya melalui beberapa fase, sebelum masuk ke alam sufi, yaitu;
1. ibnu arabi menikahi wanita yang taqwa lagi wara’, yakni maryam bin abd bin abdurrahmanal-baji. Segala prilaku dan saran dari istrinya sangat mempengaruhi kezuhudannya.
2. Kekeramatan ayahnya, yang selama hidupnya menyertainya juga telah banyak mempengaruhi kehidupan dan pola pemikiran diri ibnu arabi
3. Jiwa tasawuf paman-pamannya, yang mana ibnu arabi selalu kontak dengan mereka, dan tidak jarang terjadi dialog yang serius, khususnya pada masa-masa mudanya.
4. Serangan sakit yang mendadak pada dirinya, yang pada ujungnya dapat disembuhkan melalui barakah surat yasin, dengan dibaca di atas kepalanya, dengan izin allah beliau sembuh dari penyakitnya.
5. Pertemuan beliau dengan beberapa tokoh sufi dan filosof islam.
6. Disamping itu, ibnu arabi sangat gemar membaca dan diskusi.
Kesemuanya itu, telah banyak membantu dan mempengaruhi pola paradigmatik ibnu arabi, disamping memang kondisi sosial saat itu sangat diwarnai kehidupan sufistik. Kehidupannya yang banyak diisi dengan petualangan, juga banyak andilnya dlm merubah pemikiran dan kepribadiaannya, sehingga ia menjadi seorang yang zahid, sufi sekaligus filosof.
-Rahasia di Balik Lafadz Allah
Sesungguhnya yang kami bahas dalam pasal ini adalah sebagian dari rahasia dan isyarat-isyarat yang terkandung di dalam lafadz al-jalalah. Kata ‘’ALLAH’’. Memiliki posisi zat, yang mempunyai beberapa sifat.setiap nama itu fana dalam zat-Nya, keluar masuk naik turun di dalamnya, dan Itu bagi ahli hakikat merupakan ketergantungan (ta’alluq) bukan ciptaan (takhalluq), yang pada dasarnya menunjukan bukti bahwa hanya pada zatNya saja, bukan untuk yang lainnya.disamping itu, lafadz ‘’allah’’, tampak diberbagai tempat dan tingkatan, yang tidak dibenarkan untuk mempersepsikan hakikat zat-Nya di tempat dan tingkatan tersebut. Lafadz yang berada di tempat dan tingkatan itu, adalah pemberi makna, seperti yang terkandung di dalam tiap-tiap nama dari asmaul husna, seka;ipun pada akhirnya lafdzul jalalah, berperan sebagai peliput dari semua asmaul husna, lafadz al-jalalah suci dari keterbatasan dan ghaib. Sedangkan sesuatu di alam material ini lemah. Pada waktu harakah dhammah dibaca di atas lafadz. Dengan harakat dhammah itu, tampak kata al-huwa di dalam lafadz, dan itu disebut dengan ghaib mujarrad maksudnya ghaib di dalam lafadz(bunyi). Sedangkan gaib dalam tulisan dan bilangan disebut dengan gaib mutlak. Penting untuk diKetahui bahwa, lafdz al-jalalah itu mengandung enam huruf, yaitu
1. Alif pertama
2. Lam permulaan, gaib diidgamkan
3. Lam permulaan, alam as-Syahadah dan diucapkan dengan tasydid
4. Huruf ha’ al-huwiyah
Sedangkan empat huruf sebagai ‘’ tanda ‘’di dalam lafadz adalah:
1. Alif kekuasaan
2. Lam awal as-Syahadah
3. Alif zat
4. Ha’ dari al-huwiyah
Ada satu huruf dari huruf-huruf di atas, yang tidak tampak, baik a yang dirasakan hari ini masih gaib di mata akal, dan yang masuk akal hri ini adalah hal-hal yang tampak.
Dari lafadz maupun pada nomor, akan tetapi terdapat indikasinya, yaitu huruf wau di dalam kata adapun huruf wau dari al-huwa jelas terdapat di dalam lafadz, dan huruf wau al-huwiyah terdapat dalam nomor saja secara singkat, makna huruf lam di dalam kata adalah (yaitu alam antara), yakni alam barzakh dan itu dapat dikenal dengan akal. Adapun makna huruf ha’ adalah alam gaib, dan huruf wau untuk alam syahadah, dan itu terbaca, sekalipun tidak tampak baik di dalam lafadz maupun urutan, dan huruf wau ini disebut dengan (yaitu disebut dengan gaib di dalam gaib). Atas dasar pengetahuan ini, dapat dibenarkan bahwa perasaan lebih utama dari pada akal. Karena apa yang dirasakan untuk konteks hari masih bersifat gaib di mata akal, dan yang masuk akal hari ini adalah hal-hal yang tampak. Lebih-lebih dengan keadaan alam akhirat nanti, dimana kekuasaan saat itu berada di tangan allah, dan kondisi yang ada nantinya lebih dapat dirukyat atau diketahui lewat perasaan. Penglihatan-penglihatan waktu itu mampu melihat kepada-Nya, akan tetapi rukyat perasaan adalah puncak dari pada pandangan tersebut, sedangkan yang menjadi milik akal hanyalah awal dari penglihatan.seandainya tanpa adanya puncak yang menjadi tujuan orang, dia tidak akan melihat awalnya. Dengan demikian, perhatikanlah rahasia ini bahwa, akhirat lebih baik dari pada dunia,seperti yang difirmankan oleh Allah:
‘’kamu menghendaki harta benda duniawiyah, sedangkan allah menghendaki (pahala) akhirat”. (Q.S. Al-anfal: 67)
‘’sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.(Q.S.al-a’la: 17)
Sifat akhirat adalah kekekalan, sebaliknya sifat dunia adalah fana’,tentu saja yang bersifat kekal itu lebih baik dari yang fana’. Ketahuilah bahwa mengenal allah merupakan awal dari ilmu pengetahuan, yang akan berpuncak kepada hakikat.
-Keesaan Ilahi dalam Lafadz Allah
Huruf lam pertama didalam lafadz Allah, adalah huruf al-muarraf(yang dikenal). Dan huruf at-ta’rif(penghususan). Sedangkan huruf alif yang pertama adalah bermakna Allah, dan tidak sesuatu bersamanya setelah itu, tinggal huruf lam kedua dan huruf ha.
Bila pembahasan diatas dilihat dari urutan nomor, maka huruf lam kedua adalah berarti adalah al-malik (raja). Maka dengan hilangnya huruf alif dan huruf lam pertama, yang tinggal adalah:”gambaran dirinya”, dan berupa lam al-malik sebagai lam kedua. Sedangkan huruf ha khinayah dari
Bila huruf ha dilihat dari artikulasi huruf, merupakan huruf yang dalam dan gaib dalam diri manusia, dan kegaiban huruf itu adalah yang paling jauh. Isyarat ini mengandung makna bahwa, Allah tidak memiliki sekutu. Keesaan Allah merupakan wujud akan isyarat huruf alif, dan huruf lam pertama sebagai simbol ma’rifat. Maka lam kedua memberi isyarat sebagai maqam malik.
Dengan adanya ide ma’rifat ini, lahir dan keluarlah wujud-wujud selainnya. Huruf ha mengandung isyarat alam dan huruf itu gaib, dan gaib itu adalah hanya bagi seluruh alam selainnya, sehingga mereka kemudian mengatakan bahwa allah itu zat yang gaib, dan itu adalah huwa.( ) . maka dengan huruf alif dia menyebut zatnya.
Ketika huruf wau gaib yang terdapat di dalam huruf ha, jika ia diucapkan dengan ha maka keduanya bermakna ruh, bila huruf ha itu dibaca berarti as-sakinah,yaitu diam atau tenang sebagai mana diamnya kehidupan bukan diam dari kematian.
-Kesaksian Atas zat-Nya
Hukum dari setiap nama, sesuai dengan khususannya di alam ini, yang kekhususan itu sendiri hanya merupakan tambahan bagi alam, atas dasar bahwa allah sudah menjadipusat dan penguasa.hukum dimaksud adalah sebuah kebingungan, yang berada dan terjadi di atas segala sesuatu, pada waktu sesuatu itu ingin diketahuidan disaksikan kehadiran uluhiyah adalah satu perbuatan dan itu adlah satu kesaksian yang hanya disaksikan oleh selainnya. Maka dari itu, setiap orang yang membicarakan alam kesaksian, sungguh tidak akan mengetahui(dengan sempurna), dia hnya akan menghayal, dan itu berarti dia berada pada posisi salah.dengan kesaksian yang demikian yaitu kesaksian ‘’hadhrah al-ilahiyyah al-fi’liyyah’’, mereka umumnya mengesahkan hal ini, sampai-sampai dikalangan para rasionalis dan kelompok ahli khiyas. Mereka berkhayal bahwa ma’rifat tentang dia itu lebih dahulu daripada ma’rifah tentang diri kita. Sebenarnya semua itu salah sebab mereka mengenl zat allah atau(uluhiyyah) dari sisi pembagian akal dimana mereka mengatakan segala yang wujud ini terbagi dua bagian, yaitu: bagian yang memiliki awal dan bagian yang tidak memiliki awal. Pendekatan mereka ini memang tidak salah, tetapi mereka tidak membedakan antara zat tuhan sebagai tuhan sebelum didahului pengenalan mereka tentang hakikat diri mereka, dan tuhan sebagai zat yang dikenal dengan benar disamping sebagai tuhan. Pembicaraan ini mengenai masalah uluhiyyah, bukan mengenai zat yang bersifat qadim saja yang mustahil baginya sifat ‘’ tidak ada ‘’.maka bagi mereka yang berpendapat salah seperti pernyataan di atas tentu tidak akan menempatkan uluhiyyah, yang biasa disebut allah kecuali setelah mereka mengetahui zat-Nya. Padahal syara’ mengatakan dan mengajarkan terlebih dahulu untuk mengetahui tentang ar-rububiyah, seperti yang disebutkan oleh rasulullah saw.; ‘’ man ‘arafah nafsahu faqad arafah rabbahu’’, dimana beliau tidak bersabda yang sebaliknya, ‘’ man arafa rabbahu faqad arafa nafsahu’’. Jika sifat ar-rububiyyah dilihat sebagai zat yang dekat dengan kita, maka ilmu kita tidak akan mengenalnya, kecuali dengan mengenal diri kita lebih dahulu, lantas dimanakah letak anda dan dimanakah letak uluhiyyah?.
Sebenarnya maqam ilahi telah dijelaskan oleh syara’, yaitu khadirnya merupakan ‘’kebingungan’’, seperti yang telah disabdakan oleh rasulullah saw, pada waktu belia ditannya: ‘’dimanakah tuhan berada sebelum diciptakannya langit dan bumi?’’. Rasulullah saw. Menjawab: ‘’Dia berada di al-ama’, baik itu dekat (qashr) ataupun jauh (mudd), diatasnya adalah udara dan di bawahnya juga udara. Sungguh pernyataan di atas merupakan pernyataan yang meniadakan, dimana kata qashr mengandung makna kebingungan, yang setelah itu digunakanpada namna allah. Oleh sebab itu, bashirah-bashirah dan mata hati menjadi kebingungan untuk mengenalnya’ sekalipun melewati berbagai penjuru wawasan. Karena dia tidak dibatasi oleh kata-kata ‘’dimana’’.
Sedangkan kata al-mudd, bisanya digunakan untuk arti ‘’awam’’, yakni udara yang mengandung zat air, yang mengandung muatan kehidupan, dari itu juga asal kehidupan. Dia dengan Zat-Nya tidak disebutkan dengan kata ‘’dimana’’, melainkan hanya disebutkan kepada-Nya ‘’wujud barzakh’’, yang ada di antara langit dan bumi. Di dalam barzakh-barzakh itu, sungguh manusia mengalami kebingungan.
Bagaimana dengan orang yang dalam kondisi kebingungan?. Mereka seperti melihat garis diantara bayangan dan matahari. Dengan demikian, pada dasarnya barzakh merupakan posisi kebingungan dan yang ada di dalamnya hanyalah kebingungan itu sendiri atas dasar ini, bagi setiap orang yang mendapatkan sesuatu di alam al-barzakh, dituntut danya kemampuan beradaptasi, dan tidak merasa asing di dalamnya. Ketika itu, bahwa engkau mengatakan bahwa dia yang ada, itu adalah allah, maka dia memang allah dan sebaliknya jika engkau mengatakan bahwa dia itu bukan allah memang dia bukan allah. Itulah sebuah kebingungan yang benar-benar membingungkan.
-Yang Ada Hanya Dia
Para ulama al-muhaqqiqun sepakat, allah tidak akan menampakkan diri pada seseorang dalam satu bentuk gambaran dengan dua kali kesaksian, dan tidak satu gambaran bagi dua orang, hal ini merupakan fleksibilitas.
Abu Thalib berkata:” sesuatu tidak sama dengan sesuatu”, tidak akan dilihat, kecuali oleh “sesuatu yang tidak sama dengan sesuatu” itu sendiri. Sebab, yang melihat adalah hakikat yang dilihat. Allah berfirman : “laisa kamistlihi syai-un” (Q.S. 42:1)
Seandainya ada seseorang yang mengatakan “laisa kamitslihi syai-un (tidak ada sesuatu seperti dia), maka sesuatu itu adalah dia. Jika huruf kaf yang berarti penyerupaan merupakan sifat atau hanya sekedar tambahan, maka bagaimana dengan sifat, maka abu thalib tidak akan mengatakan ungkapannya itu. Atau seandainya itu bukan merupakan sifat, maka dia bukanlah al-huwa(allah). Padahal “sesuatu” itu adalh al-huwa dan al-huwa adalah al-huwa, maka tidak ada huwa(yang lain) kecuali huwa.
Itulah allah, dia adalah al-huwa seperti yang kami telah kemukakan di depan. Betapa allah telah banyak mengajarkan rasulullah tentang al-maqamat(tingkatan-tingkatan), lalu berapa banyak allah telah membuka tabir rahasia kepadanya.
Berbeda halnya dengan akal, yang fungsinya terkait dengan alam gaib(cepat mengatakan sesuatu yang tidak dilihatnya sebagai yang giab). Sedangkan bagi al-barri ( allah) tidak ada sesuatu yang gaib baginya. Semua yang ada baginya merupakan alam as- syahadah, maka tepat sekali penggunaan kata al- bashar bukan al- aqlu.

Read More....

“TRANSFORMASI PARADIGMA PEMBEBASAN DALAM MEWUJUDKAN SOCIAL JUSTICE”


Bismillahir rahmanir rahiim
Assalamu alaikum warhmatullahi wabarakatuh..
Maraknya patologi sosial telah merusak harmonisasi, tata nilai, flat form dan equilibrium sosial. Paket pengkhianatan terhadap kemanusian telah menciptakan belenggu-belenggu yang akan menjadikan masyarakat lebih cenderung fatalistic dan merasa kabur akan teleologis manusia sebagai makhluk sosial. kita meminjam analis Paulo freire dalam melihat fenomena tertsebut, menurutnya ada tiga tipologi kesadaran masyarakat:
Magical consciousness
Kesadaran dalam bentuk ini menganggap bahwa kondisi sosial yang terjadi berupa ketimpangan dan crime- stuructural  terjadi begitu saja tanpa mampu membaca penyebab akan keterpurukan masyarakat berupa pengangguran, kemiskinan, depolitisasi dan dehumanisasi. Sehingga melahirkan sikap apatis dan akan terus terpenjara dalam dominasi elite class sebagai superiority class, paradigma seperti ini membuat kedzaliman lebih langgeng dan kehidupan sosial menjadi statis, saya teringat sebuah ungkapan aporisme  salah seorang sahabat nabi yaitu Ali, KW .“penindas dan yang ditindas sama-sama menggunting keadilan”. Mungkin muncul pertanyaan, Mengapa yang tertindas juga termasuk kategorisasi menggunting keadilan? Jawaban sederhananya karena yang tertindas tidak punya inisiatif untuk melakukan suatu gerakan perubahan alias pecundang, tennia burane (bugis). Makanya sangat dibutuhkan spirit progresif dan spirit pembebasan. Ketika para agent of change menjadi aktivis brutal alias aktivis kadaluarsa, hal ini sangat menguntungkan “korporatokrasi” dalam mewujudkan eksploitasi terhadap masyarakat miskin, underdevelopment terus eksis dalam wajah masyarakat, status quo terkristalisasi membentuk sebuah sistem dan structure yang memberi  legitimasi sosio-politik pada kapitalisme.
Setiap manusia lahir menggenggam kekuatan (power). Namun terkadang kekuatan tersebut menjadi titik lemah disebabkan karena kita tidak mengenal diri/lupa diri (amnesia metafisik), dan tabir-tabir false consciousness (kesadaran palsu) menyelimuti diri. Hari demi hari yang dilalui kaum mustadaiifin menelan pil pahit kehidupan, sedang di balik semua itu para kelompok borjuis modern menikmati setiap detik waktu yang  terlewatkan bagaikan paradise. lentera-lentera kelam menghiasi jiwa  yang terluka dalam kepengatan pergolakan hidup.
Naival consciousness
Kesadaran naïf ini selalu memberi kontribusi pada kepincangan sosial yang terjadi. Bukan sistem yang salah, juga bukan para kapitalis. Tapi salah kita sendiri (menurut penganut teori naival consciousness). Rapuhnya analisis yang dimiliki benar-benar telah menghegemoni paradigma kita, sehingga menganggap bahwa yang terjadi semuanya adalah “salah kita sendiri”.
Satu kesalahan  fundamental  yang kita lakukan, yaitu kita tidak mau sadar.
Sadar akan skematisasi para pemodal, penguasa , multinasional corporation (MNcS), dan sadar akan penghianatan para elite negeri ini. kalo pemimpin kita pengecut dan rela mengabdi pada kekuasaan “korporatokrasi”, muncul a big question siapa lagi yang peduli  nasib proletar-proletar jalanan?
Kritical consciousness
Pada dasarnya bentuk kesadaran kritical melihat realitas sosial dengan sinis dan kemudian menjustifikasi  bahwa sistem sebagai penyebab penderitaan rakyat . sehingga masyarakat harus menyatukan  visi untuk merebut kembali hak-hak yang dirampas oleh elite class dan juga subsummed class. Dengan kesadaran ini kita bisa terbebas dari jerat-jerat sistem yang mematikan dan kembali membentuk wajah sosial yang lebih baik.
Terlalu banyak teori perubahan sosial dalam melihat dan memahami realitas sosial. Namun yang dibutuhkan adalah teori perubahan sosial yang mencerahkan, humanis dan Mampu membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan dengan dua oknum; ballance dan egaliter. Bukan justru kemasan teori yang kelihatannya pro kesejahteraan padahal hanya kedok dan tetap melanggengkan serta mendukung Neoliberalisme, dengan tiga pilar utamanya: person liberty (kebebasan individu ), private property (kapemilikan pribadi), dan private enterprise (inisiasi usaha pribadi ).
kekuatan korporatokrasi” sebagai momok pelaku eksploitasi besar-besaran secara global, menciptakan kekacauan dan berhasil menggerogoti seluruh elemen yang menjadi pilar suatu Negara berdaulat. Tidak berlebihan ketika kita memberi predikat sebagai hantu globalisasi. Cara kerja mereka di bawah naungan kapitalisme telah mengakar pasca perang dingin antara sosialisme vs kapitalisme, dan selanjutnya kapitalisme keluar sebagai pemenang. Berbagai cara mereka lakukan demi menciptakan power yang tak terkalahkan, dimulai dengan sebuah misi untuk melakukan kekacauan atau instabilitas ekonomi, yang pada akhirnya terkonstruksi pada dependensy(ketergantungan).
W.W  Rostow, David MC. Clelland dan Adam Smith. Inilah nama-nama para pakar ekonomi kapitalisme, jauh sebelumnya mereka telah mengerjakan proyek ekonomi dalam hal menanamkan doktrinal ekonomi dependensi. Masih segar dalam pustaka pengetahuan kita bagaimana cantik dan seksi isu yang digelindingkan tentang setiap Negara harus menjadi modern dan ikut arus modernisasi, karena kalau hal ini tidak diindahkan maka terkutuklah kita sebagai Negara dengan standar underdevelopmentalime, syarat utama jadi Negara modern adalah sejauh mana skala dan prioritas pembangunannya. Masih ingat bagaimana awal ambruknya ekonomi nasional kita, krisis ekonomi yang menjadi biang keladi krisis multinasional. Semua berawal dari pemimpin Orde Baru mengikuti  instruksii ekonomi pembangunan ala Rostow. karena mustahil sebuah Negara menjadi modern tanpa pembangunan (yang selanjutnya dikenal ideology developmentalisme) dan tentu lebih mustahil lagi ada pembangunan tanpa adanya capita (modal), dimana bisa mendapatkan modal? Solusi bagi ekonomii kapitalisme, IMF dan World Bank.
Liberation theology (teologi pembebasan) yang diperkenalkan oleh Gustavo Guiterez, lebih menekankan pada perlawanan terhadap penindasan yang terstruktur ini dengan seluruh kekuatan yang kita miliki. Jangan pernah menerima kebenaran atas dasar dogma dan kekuatan dominan. Kadang-kadang paradigm yang eksis dan survive hingga kini bukan lagi dalam takaran benar dan salah. Namun sejauh mana  pendukungnya mendominasi dan yang memiliki power kekuasaan. Inilah yang menjadi problem  memilih sikap objektivisme dalam kerangka nalar kebenaran yang sesungguhnya tanpa embel-embel kekuasaan sebagai alat legitimasi kebenaran. Kini kekuaasaan mampu menciptakan kebenaran dalam standar legitimasi mayority, ingat bahwa kebenaran mayoritas tidak secara mutlak bahwa sesuatu itu benar apa adanya.
Kita mencoba pemaparan yang lebih spesifik berbicara tentang diskursus teologi kadang-kadang banyak orang bersanggapan bahwa teologi hanya milik agama, yang tidak mampu teraktualisasi dalam realitas sosial, seakan-akan ada gap begitu kokoh sebagai dinding pemisah antar teologi dan realitas sosial. Padahal semestinya setiap teologi mampu mentransformasi nilai-nilai tersebut dalam mewujudkan keadilan;  economic justice (keadilan ekonomi) dan sosial justice keadilan sosial). Teologi pembebasan menjadi teori alternatif untuk mengawali sifting paradigm menyambut arah pembangunan yang sesungguhnya. Menata kembali sistem social kita dengan nalar yang tercerahkan dan ideologi yang benar-benar berpihak pada kebangkitan kaum tertindas, tentu kesadaran kritis menjadi basis atau yang menjadi prinsipil dalam setiap teori perubahan , sebagai langkah awal standarisasi awareness.
Agama  hendak menjadi spirit perubahan sosial, dalam pengertian bahwa nilai-nilai agama khususnya Islam, semestinya terinternalisasi kemudian diejawantahkan dalam gerak masyarakat. Dengan istilah lain tauhid seyogyanya menyapa realitas bukan hanya sekedar berisi doktrinal dan berujung pada kesalehan semu. Bukankah Agama Islam  adalah Agama pembebasan. Diharapkan mampu membebaskan kaum musthadaifin dan segala bentuk penjara-penjara kemanusian, yang sesungguhnya mencabut akar-akar kebenaran ilahi (devine). Contoh fenomena yang sangat ironis; ada orang islam yang shalat tengah malam melantungkan nada-nada ilahi. Namun di lain sisi  saudaranya yang muslim di sekitarnya malah menyanyikan lagu-lagu kepedihan (tapi bukan lagu Malaysia), kelaparan dan jeritan-jeritan ketidakberdayaan. Di tempat lain ada yang naik haji sampai tiga kali, tapi mereka hanya bisa apatis terhadap kondisi saudaranya yang tergeletak di rumah sakit berjuang melawan maut karena tidak mampu menebus biaya obat yang harganya di atas langit (katanya kesehatan gratis, gayanaji..). sangat disayangkan karena ini terjadi pada orang yang menyadari Tuhan dalam dirinya, mereka tidak sadar satu hal  mereka telah membuang kunci surga. Ia lupa sisi Islam yang lain.
Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Tentu harapan Bangsa ini untuk maju ada di tangan oraog-orang Islam, ketika muslim sudah bersatu menyatakan nawaitunya akan perubahan dan kebangkitan yakin 100% Bangsa kita kembali menjadi Asian Tiger. Menurut bapak reformasi kita menyatakan ada 5 borok (loopholes) yang terjadi di negra yang kita cintai ini; 1) sosial 2) ekonomi 3) ketidak jujuran dalam pemilu 4) kemanusiaan 5) kepercayaan.
Borok sosial sangat jelas dengan fakta ketimpangan sosial yang terjadi di mana-mana, pemiskinan dan penindasan terhadap rakyat kecil makin marak, hingga sampai pada banyaknya rakyat yang terlantar.”menjadi gelandangan di negeri sendiri”.
Borok ekonomi yang disebabkan oleh rate of economic growth, pemerintah kini tergantung pada IMF,ADB DAN WORLD BANK. Dulunya Indonesia dikenal Asian Tiger (macan Asia) sekarang dikenal sebagai Asian Beggar (pengemis Asia). Kemudian kita bisa melihat realitas hari ini betapa matinya sensitivisme pemerintah atas rakyat kecil dengan kasus-kasus TKI. TKI banyak yang pulang ke tanah air hanya membawa pedih, perih, bekas luka dan kenistaan sebagai manusia, pemerintah hanya bisa mengatakan nanti kita tindak lanjuti dan kata maaf (saya yakin rakyat bisa memaafkan namun tidak bisa menerima). Mana hak kami sebagai warga Negara dan manusia!!!!!?.
Lain halnya dengan ketidak jujuran dalam pemilu, ini sudah menjadi rahasia umum. Jangankan dalam skala nasional skala kampus pun sudah dipertontonkan kebobrokan politik dan keanggkuhan akan  kebodohan (maaf ,sorry, afwan !! itulah kata yang penulis anggap paling halus). Padahal kalau pemilihan itu cacat, maka keabsahan kepemimpinan tersebut cacat totalitas dan seluruh proses yang dilaluinya semuanya cacat legitimasi.
           Dan terakhir persoalan  krisis kepercayaan, masih adakah tokoh yang berjuang atas nama musthadaifin atau itu hanya jargon, slogan menjelang pemilihan umum?. Seorang figure yang benar-benar konsisten mempertahankan idealismenyalah dan memiliki nalar yang tercerahkan yang mampu membawa peradaban dan mengubah wajah indonesia yang lebih bermoral, bermartabat dan berdaulat di mata dunia. Ingat kemerdekaan ini hanyalah kemerdekaan semu, kedaulatan ini hanyalah pelecehan politik international.
           Tauhid,teologi sebagai paradigma pembebasan. Mestinya nilai-nilai tauhid mampu kita aktualisasikan dalam realitas sosial, mari satukan tekad! Lawan penindasan apapun bentuknya dan bagaimanapun modelnya dalam bingkai universal brotherhood. UNTUK USHULUDDIN JAYALAH KEMBALI       
Read More....