Cari Blog Ini

Rabu, 02 Januari 2013

“Al-Lubâb: Tafsir Ringkas tentang Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari al-Qur’an” — M. Quraish Shihab

AL-LUBÂB bisa diartikan sebagai substansi (jika dikaitkan dengan wujud) atau isi dan saripati (jika dikaitkan dengan buah). Di samping merangkum pengertian “pilihan terbaik dari segala sesuatu”, kata ini juga digunakan untuk melukiskan akal yang cerdas, pikiran yang jernih, serta hati yang tenang. Buku ini berjudul ­AL-LUBÂB karena menyajikan bentuk penafsiran yang ringkas dan padat.
Dalam khazanah tafsir, gaya penyajian semacam ini dikenal dengan metode ijmali, di mana ayat-ayat al-Qur’an tidak dibahas secara terperinci, melainkan hanya makna-makna umumnya. Buku ini memperkenalkan secara singkat surah-surah al-Qur’an, baik yang berkaitan dengan intisari kandungan ayat-ayatnya, tujuan kehadiran surah tersebut, maupun pelajaran atau pesan singkat yang dikandungnya. Dengan mengetahui intisari kandungan ayat, dapat dikenal kandungan surah. Dengan menghayati tujuan surah, terbuka kemungkinan mengayunkan langkah menuju tujuan itu. Dan dengan memerhatikan pelajaran dan pesan-pesan singkat yang terhidang, tekad untuk melaksanakannya semoga semakin kukuh sehingga tercapai tingkat Ulul Albâb. Buku ini bukan saja cocok bagi kalangan remaja dan mereka yang sibuk, tetapi juga sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin menangkap keutuhan pesan al-Qur’an dalam waktu singkat. (Keterangan pelengkap diambil dari website lentera hati)
Read More....

Apakah Rasulullah Saw bermuka masam ketika melihat seorang fakir di antara para orang kaya?

Empat ayat pendahuluan surah ‘Abasa secara umum merupakan penjelas bahwa Allah Swt tengah menegur dan menyalahkan seseorang pada ayat-ayat ini; berdasarkan kronologi ayat ini, di sini orang atau orang-orang kaya dan hartawan lebih memiliki prioritas atas seorang buta yang mencari kebenaran, namun siapakah orang yang tengah dicela dan ditegur pada ayat ini? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli tafsir. Yang popular di kalangan ahli tafsir (mufassir) Ahlusunnah dan Syiah adalah bahwa sebagian pemuka Quraisy seperti Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal, Abbas bin Abdul Muthhalib dan sekelompok orang lainnya datang kepada Rasulullah Saw. Ketika itu, Rasulullah Saw tengah sibuk bertabligh dan menyeru mereka kepada Islam serta berharap semoga seruan-seruan ini tertanam dan membekas pada hati-hati mereka. Saat itulah, Abdullah bin Ummi Maktum yang merupakan seorang buta (tuna netra) dan fakir memasuki majelis Rasulullah Saw. Ia meminta supaya Rasulullah Saw membacakan dan mengajarkan ayat-ayat al-Quran kepadanya. Abdullah bin Ummi Maktum berkukuh mengulang permintaannya dan tidak bersikap tenang; karena ia tidak mengetahui bahwa dengan siapa gerangan Rasulullah Saw berbicara. Sedemikian Abdullah bin Ummi Maktum memotong pembicaraan Rasulullah Saw sehingga membuat beliau kecewa kepadanya dan kekecewaan ini terlihat pada raut wajah Rasulullah Saw. Beliau kemudian membelakangi Abdullah bin Ummi Maktum dan melanjutkan pembicaraannya dengan para pemuka Quraisy.

Saat-saat seperti itulah, ayat-ayat pendahuluan surah ‘Abasa turun dan dalam hal ini Rasulullah Saw ditegur dan disalahkan atas perlakuannya kepada Abdullah bin Ummi Maktum.[1] Sandaran kelompok riwayat ini disebutkan Suyuthi dalam kitab tafsirnya Durr al-Mantsur menukil dari Aisyah, Anas dan Ibnu Abbas – namun dengan sedikit perbedaan – dan apa yang dikutip oleh Thabarsi dalam Majma al-Bayan adalah ringkasan dari riwayat-riwayat tersebut.[2] Hanya saja, tidak terdapat hal (indikasi atau bukti) yang dapat menunjukkan secara tegas bahwa yang dimaksud pada ayat ini adalah Rasulullah Saw. Satu-satunya yang dapat dijadikan sebagai bukti dalam hal ini adalah ungkapan-ungkapan yang disebutkan pada ayat-ayat 8 sampai 10 surah ini yang menyatakan, “Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendengarkan ayat-ayat Allah), sedang ia takut kepada (Allah), kamu mengabaikannya.” Tentu, Rasulullah Saw lebih baik dari siapa pun yang dimaksud dengan obyek ayat ini.[3] Namun sekelompok ahli tafsir meyakini bahwa kejadian seperti ini juga tidak terjadi dan ayat-ayat ini tidak memberikan petunjuk secara jelas bahwa yang dimaksud pada ayat-ayat yang menjadi obyek teguran Allah Swt adalah Rasulullah Saw, sebaliknya ayat tersebut sekedar memberikan berita dan tidak menunjuk secara lugas siapa pemilik berita. Dalam hal ini, terdapat beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa yang ditegur pada ayat ini bukanlah Rasulullah Saw. Beberapa indikasi tersebut antara lain adalah sebagai berikut: Kita tahu bahwa sifat bermuka masam (‘abus) bukanlah sifat Rasulullah Saw dan beliau bahkan tidak pernah sekali pun bermuka masam kepada orang-orang kafir apatah lagi kepada orang-orang beriman. Terlepas dari itu, kritikan Sayid Murtadha Rah yang dilontarkan atas riwayat-riwayat seperti ini yang menyatakan bahwa secara prinsip bukan merupakan akhlak dan kepribadian Rasulullah Saw. Sepanjang hayatnya, Rasulullah Saw sekali-kali tidak pernah bersikap ingin mengambil hati orang-orang kaya dan berpaling dari orang-orang fakir. Di samping itu, Allah Swt sendiri yang memandang Rasulullah Saw sebagai orang yang berbudi pekerti luhur dan sebelum turunnya ayat yang menjadi obyek bahasan (surah ‘Abasa), surah al-Qalam (58), sesuai dengan riwayat urutan pewahyuan surah-surah, turun setelah surah al-‘Alaq (Iqra bismihi rabbika) dimana Allah Swt berfirman, “Wa innaka l‘ala khuluqin ‘azhim” [4] bagaimana mungkin pada awal-awal pengutusanya Rasulullah Saw berbudi pekerti luhur (itu pun secara mutlak), dan Allah Swt memuji sifat ini juga secara mutlak, kemudian berpaling dan kembali menegurnya karena masalah-masalah akhlak seperti bermuka masam dan menyandarkan sifat tercela ini kepadanya (bahwa engkau lebih condong kepada orang-orang kaya meski mereka adalah orang-orang kafir dan untuk merebut hati mereka engkau berpaling dari orang-orang fakir meskipun ia adalah seorang beriman)! Terlepas dari semua ini, bukankah Rasulullah Saw sendiri yang bersabda, “(Oleh karena itu), janganlah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati karena apa yang mereka miliki, serta berendah dirilah terhadap orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Hijr [15]:88) Lantas bagaimana mungkin pada surah al-Hijr (15) yang diturunkan pada masa-masa dakwah Islam secara terbuka Rasulullah Saw diperintahkan untuk tidak peduli dengan harta yang dimiliki para pecinta dunia dan sebagai gantinya beliau diinstruksikan untuk bersikap rendah hati di hadapan orang-orang beriman. Pada surah ini sendiri dan dengan konteks yang sama, Rasulullah Saw dititahkan untuk berpaling dari orang-orang musyrik sebagaimana firman Allah Swt, “Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Qs. Al-Hijr [15]:94) kemudian diberitakan (pada surah ‘Abasa) bahwa Rasulullah Saw alih-alih berpaling dari orang-orang musyrik, beliau justru membelakangi orang-orang beriman, dan alih-alih bersikap rendah hati di hadapan orang-orang beriman, beliau justru tawadhu di hadapan orang-orang musyrik! Di samping itu, tercelanya perbuatan yang disebutkan di atas adalah berdasarkan hukum rasionalitas dan setiap orang berakal tentu mencela perbuatan tersebut apatah lagi menyangkut Rasulullah Saw. Karena perbuatan ini tercela secara rasional maka tidak perlu lagi ada larangan literal dan lisan kepada Nabi Pamungkas Muhammad Saw. Karena setiap orang berakal dapat mengidentifikasi bahwa harta benda dan kekayaan sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai kriteria keutamaan seseorang dan mengutamakan seorang kaya disebabkan oleh kekayaannya atas orang fakir adalah perbuatan tercela.[5] Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah bahwa pandangan pertama (pendapat masyhur) adalah pandangan yang tertolak meski bahwa apabila Rasulullah Saw disebabkan oleh tekanan seseorang, sedikit gentar dan takut, tidak melakukan perbuatan haram, melainkan berdasarkan penafsiran seperti ini, boleh jadi Rasulullah Saw melakukan perbuatan tark aula (meninggalkan yang utama) sehingga Allah Swt menegur Rasul-Nya dan hal ini tidak bertentangan dengan sifat ishmah (kemaksuman) pada diri Rasulullah Saw. Karena pertama tujuan Rasulullah Saw tidak lain adalah melakukan penetrasi di kalangan pemuka Quraisy dan menyebarluaskan ajaran Islam melalui cara ini serta mendobrak perlawanan mereka. Kedua: Bermuka masam di hadapan seorang buta tentu tidak akan menimbulkan masalah; karena ia tidak melihat (muka masam Rasulullah Saw) di samping itu, Abdullah bin Ummi Maktum juga tidak mengindahkan adab-adab majelis; karena tatkala ia mendengar Rasulullah Saw bercakap-cakap dengan pemuka Quraisy seharusnya ia tidak memotong percakapan Rasulullah Saw.[6] [iQuest] ________________________________________
[1]. Silahkan lihat, Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 26, hal. 123-124, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Pertama, 1374 S. [2]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, Tafsir al-Mizân, Terjemahan Persia oleh Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, jil. 20, hal. 330, Daftar Intisyarat Islami ,Qum, Cetakan Kelima, 1374 S. [3]. Silahkan lihat, Tafsir Nemune, jil. 26, hal. 125. [4]. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs. Al-Qalam [68]:4) [5]. Terjemahan Persia Tafsir al-Mizân, jil. 20, hal. 331-332. [6]. Tafsir Nemune, jil. 26, hal. 125-126.
Read More....

Selasa, 18 September 2012

Tragedi Karbala & Konsep Cinta

Oleh: Muchtar Luthfi Cinta itu anugerah maka berbahagialah Sebab kita sengsara jika tak punya cinta. Rintangan pasti akan menghadang… Cobaan pasti menghujam… Namun yakinlah bahwa cinta itu yang membuatmu, Mengeerti akan arti kehidupan. (cuplikan lirik karya Doel Sumbang) Berbicara tentang cinta, sejak dahulu para filosofis maupun urafa telah membahasnya sedemikian rupa dimana hal tersebut menunjukkan betapa besar peran cinta dalam kehidupan manusia dan keberadaan sekaligus kelangsungan alam semesta ini. Dalam sejarah filsafat kita bisa lihat besarnya perhatian yang diberikan Plato terhadap makna cinta, dalam dunia filsafat Islam baik dari aliran Isyraq maupun Massya’ yang masing-masing diwakili oleh Sahrawardi dalam karyanya “Munis Al-Ussyaq” dan Ibnu Sina dalam “Risalah Al-Esyq“. Tak ketinggalan Ikhwan Al-Shofa dalam kitab “Risalah Ikhwan Al-Shofa“. Para Urafa dalam karya-karya mereka menunjukkan bahwa cinta memiliki peran yang sangat penting dalam proses perjalanan mereka menuju kekasih sejati mereka, kita bisa perhatikan dalam kitab-kitab mereka seperti: Risalah al-Qusyairiah atau Kasyful Mahjub. Khajah Abdullah Ansari dalam kitab “Kanz al-Salikin” bab pertama yang ia bahas berjudul Maqalat Al-Aql wa Al-Esyq, Najmuddin Ar-Razi yang lahir setelah Ibn Arabi –kurang lebih 13 tahun sepeninggalnya– telah menulis Risalah Al-Aql wa Al-Esyq. Alhasil, ini semua sebagai bukti bahwa cinta merupakan unsur terpenting dalam wujud alam semesta menurut persepsi para filosofis dan urafa. Ibn Arabi menganggap bahwa cinta adalah unsur utama eksistensi, anggapan tersebut disandarkan pada riwayat dari hadis Qudsy ketika Nabi Dawud as bertanya kepada Allah swt: “wahai Tuhanku mengapa kau ciptakan alam semesta ini?”, Allah swt berfirman: “Aku ibarat harta yang tersembunyi maka Aku suka (baca: ingin) untuk diketahui, maka Aku ciptakan penciptaan agar diriKu diketahui”. (Hadis ini dikenal dengan hadis Kanzul Makhfi).
Dalam banyak pembahasan tentang fungsi keberadaan Insan Kamil (manusia sempurna) sebagai Khalifah Allah dan penghubung pancaaran anugerah Ilahi pada alam semesta ini. Maka keberadaanya pun pada setiap zaman merupakan suatu keharusan, karena jika tidak (walaupun hanya sesaat saja) niscaya alam semesta ini akan hancur karena salah satu fungsi Insan Kamil adalah sebagai poros perputaran wujud alam semesta ini. Telah ditekankan oleh Imam Ali as dalam khotbah beliau yang terkenal dengan khotbah “Syiqsyiqiah” beliau bersabda: “… Sementara ia (Ibn Abi Qohafah) mengetahui bahwa kedudukanku padanya (alam semesta) seperti kedudukan poros pada putaran penggilingan…”. Tentu kita tahu akibat perputaran sebuah alat penggiling yang tidak berporos, yang jelas tidak akan terwujud proses penggilingan atau bahkan dapat menghancurkan alat penggiling itu sendiri. Oleh karena itu Rasulullah saww bersabda: “… Ahlul Baitku adalah penjaga bagi bumi ini”. Kekhususan Insan Kamil yang lain adalah sebagai wakil (khalifah) Allah swt di muka bumi, tentunya harus ada kesesuaian (sinkronitas) antara wakil dan yang diwakili, oleh karenanya bisa disimpulkan bahwa ia adalah makhluk yang paling sempurna dalam penjelmaan sifat Jalal dan Jamal Ilahi, hal ini pulalah yang menyebabkannya menjadi penghubung antara makhluk dan penciptanya, atas dasar inilah dalam doa “Jamiah Kabirah” disebutkan: “…Barang siapa yang menginginkan Allah swt maka harus memulainya darimu…”. Kata ‘menginginkan Allah’ bisa diterapkan dalam banyak hal termasuk kecintaan terhadap Allah, oleh karenanya mustahil orang akan bisa mendapat dan mencapai cinta Ilahi tanpa melalui kecintaan terhadap Insan Kamil. Sebagaimana untuk sampai pada kecintaan Ilahi; harus melalui jalan petunjuk yang telah ditentukan oleh Allah swt berupa al-Quran yang disifati sebagai: “… Petunjuk bagi manusia dan penjelas…” (Q.S:1:185) Maka berdasarkan hadis Tsaqalain yang telah kita ketahui bersama dimana disebutkan tidak mungkinnya pemisahan antara al-Quran shomit dan al-Quran natiq (Al-Fitrah, Ahlul Bait) maka tanpa berpegang pada tali Allah tersebut, mustahil kita akan mendapat cinta ilahi. Imam Husein as adalah satu dari Ahlul Bait Rasul saaw. Jika kita ambil kesimpulan dari apa yang telah disebutkan diatas maka betapa tinggi derajat yang beliau miliki. Beliau adalah Insan Kamil, Khalifah Allah, poros wujud, al-Quran natiq, penghubung pancaran anugerah Ilahi dan lain sebagainya termasuk pintu cinta ilahi, untuk itu kehilangan Imam Husain as bagi pengharap cinta ilahi merupakan pukulan telak yang layak untuk ditangisi dan diratapi. Kembali ke masalah cinta, Ibn Arabi membagi cinta menjadi tiga bagian. Pertama, Cinta alamiah, cinta ini muncul dari rasa cinta jasmani saja, ini biasa terjadi pada diri orang awam yang landasan cintanya hanya perasaan lahir saja. Kedua, Cinta ruhaniah, cinta ini bermula dari kecintaan seseorang pada suatu benda yang tujuannya adalah untuk sampai pada dzat yang dicintainya dan yang berakhir pada penyatuan diri antara pecinta dengan yang dicinta. Cinta dalam jenis ini memiliki dua unsur utama sebagai sebab kemunculannya, dua hal tersebut adalah jasad dan ruh. Ketiga, Cinta Ilahiah, Cinta dalam bentuk ini hanya berhubungan dengan ruh saja tanpa ada sentuhan materi– karena segala hal yang inderawi terangkat pada posisi non inderawi– karena pemilik cinta tersebut melihat bahwa alam materi merupakan sandi dan penampakan lahiriah dunia akal, sehingga kecintaannya pada hal-hal tersebut bermakna cinta atas segala penjelmaan ilahi. Setelah mengetahui pembagian cinta diatas, kita berharap pembaca budiman dapat merefleksikan ketiga contoh diatas pada contoh dibawah ini: Pada hari Asyura orang-orang syiah (pecinta dan pengikut Ahlul Bait) mengadakan acara memperingati hari duka peristiwa syahadah Imam Husain as di Karbala, acara yang mayoritas dihadiri oleh orang-orang syiah juga sebagian dari saudara ahlussunnah. Pada waktu dibacakan kronologi pembantaian di Karbala, semua hadirin menangisi dan meratapi kejadian tersebut. Lantas muncul pertanyaan, akankah tangisan mereka atas kehilangan Imam Husain as, memiliki kualitas yang sama? Sementara dapat dipastikan bahwa kualitas (maupun kuantitas) pengetahuan mereka atas hakekat Imam Husain as memiliki perbedaan yang menyebabkan kecintaan mereka berbeda pula. Walupun secara lahir tangisan mereka sama. Yang jelas secara umum bisa dijelaskan bahwa para pecinta Ahlul Bait yang benar-benar mengetahui derajat Imam Husain as mereka menangisi dan meratapi syahadah beliau dikarenakan perpisahan mereka dengan manusia suci dan sempurna sebagai al-Quran natiq dimana kekhususan yang beliau miliki sama persis dengan al-Quran Shamith yang salah satunya adalah petunjuk bagi manusia, oleh karenanya Rasul saww bersabda: “Sesungguhnya al-Husain as merupakan sinar petunjuk jalan yang benar dan bahtera penyelamat”. Read More....