Cari Blog Ini

Jumat, 15 Juli 2011

Kreativitas Yang Terpenjara




Dikala senja menyinsing seorang pemuda duduk termenung memandangi sang matahari yang sebentar lagi kan bersembunyi dibalik kegelapan malam. Matanya jauh meneropong ke angkasa luas, pikirannya pun tak kalah jauh pergi  berkelana dengan kegelisan yang menyelimuti jiwanya. Yach,  resah dan gelisah senantiasa menemani jiwanya, jiwa mudanya yang penuh dengan semangat perubahan, bagaikan api yang siap membakar seluruh “kepalsuan” yang menjadi trend dihampir seluruh pemuda. Ia resah melihat kondisi negaranya yang kehilangan jati dirinya. Ia gelisah melihan kondisi sebagian pemuda yang  terserang “penyakit” kepuasan akan pengetahuan. Jiwanya terbakar, ia memiliki keinginan untuk merubah keadaan, ia ingin melihat masyarakatnya maju, ia sadar bahwa apabila disuatu negara pemudanya kreatif pasti masyarakatnya akan berubah, ia teringat kata-kata dari sang proklamator indonesia “berikanlah aku sepuluh pemuda maka akan ku ubah dunia”. Api semangat itu semakin membakar jiwanya, tekadnya semakin bulat, ia harus bangkit, ia harus berbuat untuk masyarakatnya. Tiba-tiba sang angin yang sepoi datang menyapa kulitnya yang lembut, ia baru tersadar bahwa sekarang ia berada di dalam “penjara”, manamungkin ia akan mengubah keadaan negara, pemuda, dan masyarakatnya sedangkan dia sendiri berada dalam “penjara”???
kreativitas yang terpenjara, judul ini sengaja saya angkat sebagai upaya untuk melukiskan keadaan para intelektual muda kita saat ini. sebagaimana kita ketahui bersama pikiran anak muda sangat ideal, mereka selalu memimpikan hal-hal yang sangat besar untuk mengubah segalanya, namun terkadang kita melihat para pemuda itu “mati” sebelum idealisme briliannya itu terrealisasi. Yach begitulah realitas hari ini yang kita jumpai dimana-mana. Sang pemuda pada cerita diatas adalah seseorang yang punya semangat untuk perubahan, namun sayang semangatnya itu ia peroleh didalam “penjara” sistem yang “jahiliah”. Ia ingin merubah  masyarakatnya sedangkan ia sendiri terpenjara dengan kebodohannya, ia ingin merubah negaranya sedangkan ia sendiri belum berubah, ia ingin menghancurkan sistem jahiliah yang ada pada negaranya sedangkan tubuhnya terikat dengan “belenggu besi”. Akhirnya semangatnyapun  ia “jual” kepada mereka yang punya uang, akhirnya kreativitas sang pemuda itu dibunuh oleh rupiah, atau dengan kata lain sang pemuda itupun telah “mati”. Banyak pemuda kita hari ini yang “mati” sebelum waktunya. Apakah ini sudah menjadi budaya yang telah mengkristal dizaman kita, yang konon (atau bukan konon) semuanya dapat dibeli dengan uang?? Jawabannya sekarang ada pada anda sebagai pemuda. “penjara” atau kebebasan adalah pilihan, tergantung yang mana yang anda pilih, apakah terus menghidupkan dan mempertahankan idealisme ataukah “membunuh” atau menjual idelisme itu.  Dan disitulah kemudian terjawab apakah anda adalah pemuda yang berkarakter ataukah tidak.
            Dinamisasi pengetahuan yang terjadi saat ini “memaksa” sebagian pemuda untuk hidup dengan kecerdasan dan juga mentalitas yang handal. Karenanya, bagi penulis yang harus dilakukan oleh para generasi muda adalah menjadikan budaya intelektualitas bukan hanya sebatas teori tapi aplikasi. Pengetahuan-pengetahuan yang didapat harus sampai pada level kesadarannya. Apabila masih ada pemuda yang “menjual” idealismenya berarti pengetahuan yang ia dapati tidak sampai membawanya pada tinggkat kesadarnnya. Tapi hanya sebatas pengetahuan aksidentil. Tentunya ada yang salah dengan keyataan yang sangat memprihatinkan ini, boleh jadi dari orang yang memberikan pengajaran kepada para generasi muda, ataukah pemuda itu sendiri yang tidak serius dalam pencarian pengetahuan, atau jangan-jangan ada kesalahan pada kurikulum pendidikan kita hari ini. ini tugas kita bersama untuk menyelesaikan problem ini.
            Perubahan kearah yang lebih baik bukan hanya sekedar angan-angan belaka. Idealisme yang menjadi cirikhas pemuda harus tetap dipertahankan, walaupun badai-badai besar selalu datang menerpa. Agar tidak menjadi bayang-bayang  semu, maka kini saatnya para pemuda harus bangkit dari “mati” surinya, karena dipundaknyalah nasib bangsa berada. Karenanya agar idealisme itu tidak gampang dijual, maka kultur intelektualitas harus selalu diletarikan. Kultur intelektualitas yang dimakasud adalah menciptakan suasana dialektika bersama siapapun dan dimanapun serta menjadikan buku sebagai “sahabat sejati”.  Kajian-kajian sistematis harus senantiasa menemani sang hari. Kenapa? Karena pemuda adalah pemimpin masa depan, jikalau pemudanya menghabiskan masa mudanya dengan hura-hura maka kita telah mengetahui jawabannya tunggulah kehancuran negara kita. Oleh karena itu maka marilah kita berlomba-lomba untuk melakukan hal-hal apa saja yang bermanfaat untuk manusia dan kemanusiaan.
Tulisan singkat ini akan saya akhiri dengan sebuah pepatah “ seoarang pemuda yang tidak merasakan pahitnya belajar walaupun sedikit, maka ia akan merasakan pahitnya hidup seumur hidup”. wallahu a’lam
Read More....

Rabu, 13 Juli 2011

Penjara akademik


Penjara Birokrasi
Oleh M. Fadli

M
asa modernisasi adalah masa dimana setiap level dan bagan kehidupan harus masuk kedalam sebuah struktur yang menjanjikan rasionalisasi kehidupan, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kehidupan yang dijalalani oleh manusia selalu mengalami perkembangan dari waktu kewaktu dan selalu mengalami rasionalisasi, jadi hal-hal yang bersifat inrasionalpun akan ditinggalakan dan meniscayakan akan mengalami kepunahan. Sebagaimana pandangan seorang tokoh sosiolog yaitu max weber yang beranggapan bahwa kehidupan yang baik jika kehidupan tersebut masuk kedalam struktur birokrasi yang menjadi landasan dalam berjalannya kehidupan tersebut. Tapi yang menjadi sebuah permasalahan adalah rasionalisasi-rasionalisasi yang dilakukan pada hakikatnya adalah sebuah inrasionalisasi yang bertopengkan rasionalisasi. karna dalam realitasnya rasionalisasi yang ditonjolkan ternyata merupakan penjara-penjara baru yang dapat mengekang daya kreatifitas kita sebagai manusia. dalam rasionalisasi birokrasi hal-hal yang selalu digembor-gemborkan selalu hal-hal yang positif sedangkan hal-hal yang negatif dari rasionalisasi tidak pernah dipaparkan. Yang mana sebenarnya ada hal-hal yang dibalik semua itu dapat menjadi bumerang ketidakseimbangan nilai dan mau tidak mau akan melahirkan masalah-masalah baru yang berkepanjangan. Lembaga pertama yang memakai sistem birokrasi yang dipelopori oleh Ray kroc dengan menghadirkan restoran waralaba dan semua hal itu di warnai dengan hadirnya mcdonaldisasi yang lahir di USA yang nantinya diambil sebagai sebuah rujukan bagi setiap birokrasi yang ada di masyarakat. karena Macdonaldisasi adalah sebuah lembaga pertama yang mampu menghadirkan struktur yang  sekilas sangat rasional karena bersifat instan dan efesien. 
           Dalam perkembangannya sistem waralaba yang dikembangkan oleh Mcdonaldisasi diadopsi oleh berbagai macam elemen kehidupan. Mudahnya perkembangan sistem waralaba dikarenakan sistem tersebut bersifat instan dan menjanjikan kemudahan-kemudahan dalam mencapai tujuan kehidupan manusia, dalam realitasnya manusia yang telah mengalami perkembangan pola pikir yang meniscayakan akan memilih hal-hal yang efesien dan instan dan akan meninggalkan hal-hal yang non-rasional dan lambat.
             Dalam cakrawala kehidupan manusia dari masa tradisional menuju kepada masa modern lembaga-lembaga dalam bentuk birokrasi semakin kompleks dikarenakan kebutuhan manusia yang kompleks pula. Dan setiap birokrasi dihadapkan pada dua pilihan pola struktur ada pola struktur yang rumit dan pola struktur yang efesien dan tentunya secara rasionalitas manusia akan memilih pola struktur yang lebih efesien. Begitu pula dengan kehadiran mcdonaldisasi sebagai sebuah birokrasi yang memakai sistem waralaba mampu menjadi teladan bagi birokrasi-birokrasi lain. Cuma yang jadi permasalahan adalah dengan hadirnya sistem birokrasi yang instan telah mengantar manusia kepada dekadensi nilai. Dengan keadaan tersebut manusia telah dihadapkan pada persoalan hidup yang lebih rumit dan kompleks dan pada akhirnya birokrasi yang memakai sistem waralaba yang meniscayakan rasionalisasi kehidupan akan berujung pada inrasionalisasi. Sekilas kita merujuk pada realitas kehidupan bahwa seluruh birokrasi yang ada telah mengadopsi sistem mcdonaldisasi yang telah menghegemoni paradigma kita sebagai sebagai sebuah identitas kebangsaan, dan dengan keadaan demikian maka secara tidak langsung mereka telah mencibtakan ketergantungan kita kepada mereka yang mempunyai kepentingan tidak terbatas yang lambat laun akan membunuh kita secara perlahan. kalau kita perhatikan secara seksama hegemoni tersebut telah menggerogoti bukan hanya pada pribadi-pribadi individu tapi pada konteks yang lebih besar.misalnya: pada ruang lingkup keluarga,suku,dan bangsa.
            Sedikit kita melihat sejarah perkembangan masyarakat eropa yang terjadi sepanjang abad 19 dengan masuknya masa industri dan menggeser tradisionalisasi kehidupan  telah membawa perubahan yang dahsyat, yang tentunya juga membawa berbagai macam permasalahan sosial yang pada intinya telah tercipta penindas-penindas berdasi yang berdomisili pada struktur birokrasi. Selain itu konteks keagamaan juga terjadi pertententangan yang pada akhirnya melahirkan tuhan-tuhan baru yang dijadikan sebagain pijakan hidup dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Begitu pula yang telah terjadi di negara yang kita cintai ini..........................bersambung
*Penulis adalah ketua umum HMI kom. Ushuluddin dan Filsafat (formatur) periode 1432-1433 H/ 2011-2012 M.
Read More....


Penjara Birokrasi
Oleh M. Fadli
(Mahasiswa Sosiologi Agama: VII)
  M
asa modernisasi adalah masa dimana setiap level dan bagan kehidupan harus masuk kedalam sebuah struktur yang menjanjikan rasionalisasi kehidupan, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kehidupan yang dijalalani oleh manusia selalu mengalami perkembangan dari waktu kewaktu dan selalu mengalami rasionalisasi, jadi hal-hal yang bersifat inrasionalpun akan ditinggalakan dan meniscayakan akan mengalami kepunahan. Sebagaimana pandangan seorang tokoh sosiolog yaitu max weber yang beranggapan bahwa kehidupan yang baik jika kehidupan tersebut masuk kedalam struktur birokrasi yang menjadi landasan dalam berjalannya kehidupan tersebut. Tapi yang menjadi sebuah permasalahan adalah rasionalisasi-rasionalisasi yang dilakukan pada hakikatnya adalah sebuah inrasionalisasi yang bertopengkan rasionalisasi. karna dalam realitasnya rasionalisasi yang ditonjolkan ternyata merupakan penjara-penjara baru yang dapat mengekang daya kreatifitas kita sebagai manusia. dalam rasionalisasi birokrasi hal-hal yang selalu digembor-gemborkan selalu hal-hal yang positif sedangkan hal-hal yang negatif dari rasionalisasi tidak pernah dipaparkan. Yang mana sebenarnya ada hal-hal yang dibalik semua itu dapat menjadi bumerang ketidakseimbangan nilai dan mau tidak mau akan melahirkan masalah-masalah baru yang berkepanjangan. Lembaga pertama yang memakai sistem birokrasi yang dipelopori oleh Ray kroc dengan menghadirkan restoran waralaba dan semua hal itu di warnai dengan hadirnya mcdonaldisasi yang lahir di USA yang nantinya diambil sebagai sebuah rujukan bagi setiap birokrasi yang ada di masyarakat. karena Macdonaldisasi adalah sebuah lembaga pertama yang mampu menghadirkan struktur yang  sekilas sangat rasional karena bersifat instan dan efesien. 
            Dalam perkembangannya sistem waralaba yang dikembangkan oleh Mcdonaldisasi diadopsi oleh berbagai macam elemen kehidupan. Mudahnya perkembangan sistem waralaba dikarenakan sistem tersebut bersifat instan dan menjanjikan kemudahan-kemudahan dalam mencapai tujuan kehidupan manusia, dalam realitasnya manusia yang telah mengalami perkembangan pola pikir yang meniscayakan akan memilih hal-hal yang efesien dan instan dan akan meninggalkan hal-hal yang non-rasional dan lambat.
                        Dalam cakrawala kehidupan manusia dari masa tradisional menuju kepada masa modern lembaga-lembaga dalam bentuk birokrasi semakin kompleks dikarenakan kebutuhan manusia yang kompleks pula. Dan setiap birokrasi dihadapkan pada dua pilihan pola struktur ada pola struktur yang rumit dan pola struktur yang efesien dan tentunya secara rasionalitas manusia akan memilih pola struktur yang lebih efesien. Begitu pula dengan kehadiran mcdonaldisasi sebagai sebuah birokrasi yang memakai sistem waralaba mampu menjadi teladan bagi birokrasi-birokrasi lain. Cuma yang jadi permasalahan adalah dengan hadirnya sistem birokrasi yang instan telah mengantar manusia kepada dekadensi nilai. Dengan keadaan tersebut manusia telah dihadapkan pada persoalan hidup yang lebih rumit dan kompleks dan pada akhirnya birokrasi yang memakai sistem waralaba yang meniscayakan rasionalisasi kehidupan akan berujung pada inrasionalisasi. Sekilas kita merujuk pada realitas kehidupan bahwa seluruh birokrasi yang ada telah mengadopsi sistem mcdonaldisasi yang telah menghegemoni paradigma kita sebagai sebagai sebuah identitas kebangsaan, dan dengan keadaan demikian maka secara tidak langsung mereka telah mencibtakan ketergantungan kita kepada mereka yang mempunyai kepentingan tidak terbatas yang lambat laun akan membunuh kita secara perlahan. kalau kita perhatikan secara seksama hegemoni tersebut telah menggerogoti bukan hanya pada pribadi-pribadi individu tapi pada konteks yang lebih besar.misalnya: pada ruang lingkup keluarga,suku,dan bangsa.
                        Sedikit kita melihat sejarah perkembangan masyarakat eropa yang terjadi sepanjang abad 19 dengan masuknya masa industri dan menggeser tradisionalisasi kehidupan  telah membawa perubahan yang dahsyat, yang tentunya juga membawa berbagai macam permasalahan sosial yang pada intinya telah tercipta penindas-penindas berdasi yang berdomisili pada struktur birokrasi. Selain itu konteks keagamaan juga terjadi pertententangan yang pada akhirnya melahirkan tuhan-tuhan baru yang dijadikan sebagain pijakan hidup dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Begitu pula yang telah terjadi di negara yang kita cintai ini..........................bersambung
*Penulis adalah ketua umum HMI kom. Ushuluddin dan Filsafat (formatur) periode 1432-1433 H/ 2010-2011 M.
Read More....